December 31, 2010

2010

Beberapa hari yang lalu gue membaca kembali diary gue dari awal 2010 hingga terakhir gue nulis. Entah kenapa seneng aja, bagaikan menjelajah mesin waktu, menelusuri dan mengingat kembali apa saja yang telah terjadi selama 2010 ini.

Awal 2010 gue bagaikan dikasih kejutan yang indah, gue dinobatkan menjadi Juara Umum IPS se-angkatan kelas XI IPS.
Setelah itu gue sempet ikutan berbagai lomba, dari olim ekonomi, akuntansi, cerdas cermat UUD, cipta puisi, karya ilmiah. Waduh banyak banget tapi yang berhasil cuma 1, yaitu lomba cipta puisi yang diadain BHACA (Bung Hatta Anti Corruption Award). Meski begitu, gue seneng dan bersyukur karena lomba-lomba yang gue ikutin memberikan pengalaman dan pelajaran yang berbeda-beda dan bermakana buat gue.

2010 juga jadi tahun pertemuan atas rindu yang menggunung gue terhadap temen-temen SD gue. Di tahun ini, gue berhasil ketemu mereka, bahakan sampai 2 kali dalam setahun. Ini merupakan salah satu resolusi gue di 2010 yang tercapai.

2010 juga menyadarkan gue betapa indahnya memiliki saudara yang usianya sebaya.

2010 gue menemukan persahabatan dengan lawan jenis, suatu hal yang sangat gue impikan dari kapan tahu. Gue seneng bisa share sama dia, dan gue kangen dengan pertanyaan-pertanyaannya kaya “Lo kenapa fit?”, “Lo nggak papakan fit?”
Semoga kita bisa tetap bersahabat. Amien

Februari 2010 adalah 17 tahunnya gue, bukan 17 tahun yang manis sih, tapi gue bersyukur banget karena masih bisa melewatinya bersama orang-orang yang gue sayang.

Dan…hemmm 2010 ini adalah tahun yang panjang antara gue dan dia. Tahun ini punya berbagai cerita yang bagaikan siklus yang berulang. Mulai dari Januari-Februari yang terasa begitu indah bareng dia. Maret-Mei yang masih bisa berteman baik sama dia. Terus Awal Juni sampe pertengahan slek gara-gara hal sepele dan gue lupa kenapa bisa baikan. Temenan lagi dari pertengahan Juni-Agustus pertengahan. Terus slek lagi dari pertengahan Agustus-Oktober akhir, lalu baikan lagi dan temenan lagi sampe November pertengahan. Terus diem-dieman lagi. Terus abis ini gue nggak tahu akan bagaimana, yang jelas gue capek begini terus, tapi lucu juga kalau mengingatnya lagi. Ahahahha
Karena sebentar lagi (dalam hitungan jam) tutup tahun, mungkin kisah gue dan dia juga akan menutup dengan sendirinya. Entahlah

2010 mengajarkan gue untuk bisa memaafkan seseorang yang telah menyakiti perasaan gue, dan ternyata….nggak pernah ada sebuah kesalahan atau kerugian jikalau kita memaafkan orang lain, readers. Justru kita menjadi seseorang yang berjiwa besar. Melawan keegoisan dan melupakan sakit hati yang kita rasa dengan memaafkan orang tersebut menghadirkan hikmah tersendiri dalam hidup gue. Orang yang menyakiti gue itu..yang membohongi dan mengerjai gue itu..yang telah gue maafkan pada akhirnya menjadi orang yang begitu sering berbagi informasi kepada gue tentang try out USM STAN—sekolah yang pengen gue masukin setelah lulus SMA nanti—

So, kalau readers dalam keadaan sulit memaafkan seseorang. Yuk lawan keegoisan dan sakit hati. Kita maafkan orang itu dan percaya deh…ada hal indah yang akan terjadi di balik itu semua.

Terima kasih Tuhan untuk 2010 yang penuh kisah ini, tak perlu kusesali namun sangat kusyukuri. Terima kasih juga telah mempertemukanku dengannya.

Welcoming 2011, hello Rabbit (doubutsu no naka de usagi ga ichiban suki desu)

December 25, 2010

Impossible

Seandainya kita bisa bertukar, gue jadi lo, lo jadi gue.
Oh impossible. Lo cowok dan gue cewek.

Baiklah, bagaimana kalau kita bertukar tempat ?
Gue menjadi anak dari nyokap lo yang menginginkan anaknya menjadi jurnalis, karena gue pengen jadi jurnalis dan butuh dukungan dari orang tua gue. Lalu lo menjadi anaknya nyokap gue yang menginginkan anaknya menjadi seorang guru karena lo pengen ambil pendidikan alias jadi gurukan?

Ahahahaha, awalnya gue nggak percaya dengan cerita nyokap gue tentang lo yang pengen jadi guru. Lo, sosok yang nggak pernah gue peduliin atas kehadiran lo di kelas, sosok yang membuat gue terlihat berada di sebelah pohon bambu jika berdiri di sebelah lo, sosok pemalas dan masa bodo. Sulit rasanya percaya dengan keinginan lo jadi guru.
Sementara nyokap lo mendukung lo jadi jurnalis, bertolak belakang banget dengan keadaan gue.

Lalu bagaimana ? Mau bertukar ? Impossible. Cuma itu jawabannya

Yang possible adalah percaya pada diri gue kalau banyak jalan menuju Roma, banyak jalan meraih cita-cita gue untuk jadi jurnalis, meski langkah awalnya bukan dalam waktu dekat ini, tapi gue percaya gue bisa. Gue bisa menahan sesuatu yang gue inginkan lalu pada saatnya nanti gue akan merebut kesempatan gue untuk dapat meraih apa yang gue inginkan…menjadi jurnalis…seperti si cantik Najwa Shihab ini







Atau dokter gigi yang pandai menyanyi ini…Tina Talisa





Dan kecil kemungkinan seperti si imut Prita Laura yang juga jago diving




atau si pemberani Grace Natalie




atau seprofesional Rosiana Silalahi




Aku ingin seperti mereka, Tuhan. Dengar doaku, ya


Jika tidak, semoga gue berjodoh dengan si cakep Tomtjok (Tommy Tjokro)






Atau si suara mantap Aiman Witjaksono



semogaa...

December 24, 2010

IMO (Sinema Elektronik)

Astaga kenapa jadi begini ya?
Virus apa sih yang merasuki keluarga gue ?
Mereka jadi kecanduan…mereka jadi korban SINETRON.

Sinema Elektronik yang udah ada dari zaman kapan tau, yang ceritanya berkisar realita kehidupan sehari-hari, lalu kalau ratingnya tinggi akan dibuat berlapis-lapis episode, lalu ceritanya nggak akan habis karena selalu ada pemain baru yang ditambahkan di tengah episode. Iya itulah potret sinetron di era gue yang menginjak dewasa (cailah bahasa gue)

Sinetron yang telah berlapis episode dibuat sequelnya, jilid 2 lah, session ramadhan lah yang ceritanya…gue nggak tahu apa..karena gue nggak pernah nonton sinetron zaman sekarang.

Atau sinetron yang telah berlapis episodenya akhirnya tamat tapi ada sinetron baru yang pemain utamanya tidak lain tidak bukan adalah si pemeran utama sinetron sebelumnya, hanya saja dengan kisah yang berbeda tapi intinya sama, si tokoh itu teraniaya.

Dan yang paling gue benci adalah model cerita yang awalnya si tokoh telah mati karena kecelakaan lalu tiba-tiba di tengah episode si tokoh ternyata belum mati. Bukankah ini nggak mungkin, contoh ya : si A naik mobil yang ternyata di tengah jalan mobilnya meledak karena diletakkan bom di dalamnya. Dalam keadaan seperti itu mungkinkah si A masih hidup? Kan imposibble banget, readers. Kalaupun masih badannya pasti tecerai berai, telinganya copotlah, kakinya patah, perutnya bolong. Tapi untuk sinetron yang pernah gue tahu si A ini hidup, seluruh tubuhnya masih utuh hanya saja si A lupa ingatan.

Ada juga sinetron yang dimana cowoknya itu rela menyelamatkan jepitan Rp. 1000an milik cewek pujaan hatinya, dengan resiko hampir ketiban semen. Ya sodara sodara, apakah ada yang mau melakukan hal yang sama dengan si cowok ini?

Ok, selain itu gue nggak suka dengan pemilihan pemain. Salah satu sinetron favorit bokap gue…Oh My Godness, bokap gue nonton sinetron..sejak kapan Ya Tuhan..gue shock dengan reaksi bokap gue memanggil “Rindu…rindu…mana Rindu? Ganti Rindu, lagi tegang, mau ketauan!” saat gue mengganti channel berita favorit gue.
Iya pemeran yang diidolakan bokap gue itu, kok tampangnya masih kaya anak SMP disuruh jadi pekerja kantoran yang lalu jadi tukang pecel,

Ada lagi….kalo yang ini idola nyokap gue. Tampangnya aja masih anak SMA (dan realitanya emang gitu) tapi perannya membuat dia harus memikirkan beban berat yang ditanggung orang lain dan kesedihan orang lain seolah kesalahannya. Ohhh anehnya readers.

Terus yang paling nggak catching di mata adalah sinetron yang zoom in satu-satu, nggak disorot seluruh badan. Itu membuat gue pusing ngeliatnya.

Dan semua orang di rumah gue…nyokap…bokap…MPC (adek gue yang cewek)…semuuanya begitu terhipnotis dengan sinema elektronik yang ada di 2 channel TV Swasta tersohor di negeri kita ini.

Fiuhhh…BT banget makanya kalau keluar kamar berkisar jam 7-10 malam, gue lebih memilih nonton berita setelah mandi (berkisar jam 5 sore sampe magrib) dan keluar lagi buat nonton acara jam 10 malem sejenis talkshow gitu, sementara jam nonton sinetronnya keluarga gue, gue pake buat dengerin radio di kamar sambil ber-sing a long.


Nggak pernah nonton sinetron kok tahu banyak tapinya ? haha iya, soalnya pas nyokap bokap gue nonton sinetron gue juga ada di situ terkadang, gue nggak nonton melainkan memperhatikan..mengkritik di setiap kejadian yang imposibble.

Dan gue nggak habis pikir dengan keluhan-keluhan yang disampaikan berkaitan dengan sinetron yang ditonton ortu gue itu.
Contoh ya :
Ortu : “Aduh kenapa si A nyamperin si B diakan mau dibunuh padahal. Bodoh banget sih”.
Gue : “Udah tahu bodoh, masih aja ditonton”

Gue nggak habis pikir, yaudahan aja nontonnya menurut gue.

Jadi gue nggak suka nonton sinetron? Lebih tepatnya sinetron zaman sekarang, karena sinetron yang sebenarnya berbalut realita kehisupan justru jadi imposibble dan berlebihan, semuanya seolah hanya mendongkrak popularitas si artis tanpa memperhatikan kualitas aktingnya. Ya meskipun ada beberapa artis yang kualitas aktingnya bagus kok. Selain itu semua tidak lain tidak bukan adalah tujuan komersil tapi padahal sih cerita yang kaya begitu (yang gue jelasin contoh-contohnya) nggak punya nilai jual menurut gue.

Ya tapi begitulah potret kehidupan dalam per-sinetron-an (apa coba), berlapis episode karena banyak ratingnya, banyak ratingnya karena banyak yang nonton, sementara yang nonton pasti menganggap sinetron adalah hiburan bukan menilai dari kualitasnya.
Hiburan, pengalih perhatian dari hiruk pikuk kekacauan yang ada di negeri ini.

Mungkin mereka lelah melihat—yang namanya saja—wakil rakyat, tetapi tidak sepenuhnya mewakili aspirasi rakyat.

Mungkin mereka lelah dengan otoritas sang penguasa yang terus menaikkan harga kebutuhan pokok tanpa melirik lebih jauh kemampuan daya beli si rakyat.

Mungkin mereka lelah dengan kebijakan-kebijakan baru yang dibuat pemerintah yang bagikan anget anget tahi ayam

Atau mungkin mereka lelah melihat sidang yang tak pernah usai terhadap orang yang sudah jelas menelan uang rakyat atau menyebabkan kekacauan dimana-mana.

Mungkin mereka menganggap sinema elektronik lebih baik dari itu semua, sinema elektronik adalah hiburan atas kejenuhan yang ada. Mungkin…entahlah

December 20, 2010

TOEFL

Hari ini gue abis TOEFL (Test of English as a Foreign Language) di sekolah.
Jujur gue nggak siap dengan tes ini, gue ngerasa begitu cepat padahal gue baru akan mempersiapkan untuk mendalami buku TOEFL yang gue punya setelah semseteran ini, tapi ternyata nggak sampe seminggu pasca semesteran TOEFL inipun diadain.
Sebelumnya, gue ikutan workshop di hari Jumat. Di situ dijelasin trik-trik menebak
jawaban secara intelektual, juga strategi yang harus kita jalankan saat TOEFL.

Yang pertama lo harus pinter mencuri waktu, dan yang paling utama adalah mempersiapkan telinga lo. Yang terakhir ini rasanya sulit, yah tahu sendiri telinga gue tuh parah banget dalam mencerna pembicaraan dalam bahasa inggris, ditambah lagi metode belajar gue kan visual bukan audio jadi susah ngikutin tes di bagian listening, akhirnya gue memilih jawaban yang kira-kira kuping gue tangkep aja.
And yuou must know readers, gue mengkotak-kotakan jawaban? Hee? Jangan bingung, karena lembar jawaban yang umumnya bulat lalu harus dihitamkan, ini beda. Ini berbentuk kotak dan harus dihitamkan. Rasanya pegel banget. Asli berantakan juga itu gue menghitamkannya.

Setelah menjawab 50 soal listening, kita beranjak ke Section 2 : Structure and Written Expression. Ya selamat berpusing-pusing ria, menebak sesuka hati gue dan mengikuti instinct liar gue yang jarang banget hoki. 40 soal section 2 udah terjawab, lalu gue nggak tahu apakah sudah diizinkan untuk mengerjakan—section 3 : Reading Comprehension—atau belum. Guepun mulai membaca teks dengan trik yang udah diajarkan pada saat workshop, dengan santai memulai menjawab. Lalu lama sekali dan pengawas nggak memberikan instruksi untuk mengerjakan section 3 hingga tiba-tiba, si pengawas berkata “waktunya tinggal 15 menit lagi”. What?? SH*T. gue baru sampe nomor 22 dari 50 nomor dan dia bilang tinggal 15 menit lagi?

Gue kelimpungan. Jadi ternyata nggak ada instruksi untuk mengerjakan section 3? Jadi kita boleh ngerjain tanpa instruksi dari dia? Aduhh parah banget, apa tadi dia udah bilang dan gue telinga gue nggak berfungsi sebagaimana mestinya?
Gue ngebut..gue mulai mencari soal yang intinya menanyakan … wait…skip !!

Ada tragedy di rumah gue, tepatnya beberapa langkah dari tempat gue bersarang membuat postingan ini. Adek gue, si YDW, berumur 101 bulan, dia baru saja meninggalkan kotorannya di lantai yang jaraknya hanya beberapa langkah dari gue ini. KOTORANNYA saudara-saudara? Hasil olahan makanannya? Alias feses saudara-saudara, gila banget deh adek gue yang saking kebeletnya ini.

Ok back to the topic.

Gue mencari soal yang intinya menanyakan persamaan kata atau maksud.
Lalu gue mencoba menjawab soal lain dengan sekilas membaca teks yang panjangnya kaya rel kereta api.
Lalu si pengawas berkata lagi “Waktunya tinggal 5 menit lagi”. Argghh gue bergegas untuk berusaha menjawab, dan saat pengawas mengatakan “Waktu tinggal 2 menit lagi” sementara masih ada sekitar lebih dari 10 soal yang belum gue jawab, guepun menjawab asal. Mengkotak-kotakkan jawaban tanpa melihat lembar soal, atau sekedar melihat pilihan jawaban. Aduh pasrah aja deh gue, toh gue udah berusaha belajar semalemnya.

Jadi, total soal yang gue kerjakan berjumlah 140 soal dalam waktu 120 menit dengan duduk di kursi tanpa meja, melainkan memangku papan alas yang gue bawa dari rumah, mengkotak-kotakkan jawaban.

Just one word : PEGELLLL

Bahkan sampai gue melakukan posting ini, entah kenapa kaki gue masih tersa pegal dan sakit seluruh tubuh. Ck

Gue pesimis untuk hasil yang memuaskan, tapi gue berharap…berharap pada keajaiban ? …mungkin…entahlah

December 19, 2010

Tears

Kok gue baru tau ya kalo air mata itu lengket ?
Atau cuma air mata gue yg lengket ?
Kok gue melankolis sih ? Kenapa gak sanguinis atau plagmatis atau korelis ?
Kok gue gampang nangis sih, kan gue dikasih tau mana yg baik padahal ?
Kok air mata gak ada batasnya sih ?
Kenapa gak sampe umur 10 tahun aja orang bisa ngeluarin air mata, selebihnya nggak bisa gitu.
Kan gue malu udah hampir 18 tahun masih nangis .
Tapi gue tau jawabannya, karena air mata membasahi mata, supaya nggak kering mata kita (kalo salah betulin aja ya readers)

gue pengen pantai...angin pantai..debur ombak...gue pengen tidur di sana.

Gue nggak tidur semalem...masih ngantuk....capek...laper...diceramahin
pleaseee, skip sebentar dong !

Gue tahu apa yg Anda katakan semuanya penting dan baik buat gue, tapi pleaseee skip dulu dong, gue capek..ngantuk

gue mau nulis
gue mau nulis
gue mau nulis
gue mau nulis
gue mau nulis
gue mau nulis,

gue mau skip untuk part yang menyakitkan ini

gue bisa kok . pasti gue bisa . bisa gue pasti .
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis