December 17, 2016

Curhatan 2016


Ini sungguh perjalanan yang mengantarkan saya pada sebuah ‘kehidupan’

Kalimat di atas bagian dari #throwback2015 saya, dan di 2016 ini saya telah benar-benar memasuki kehidupan. The real life. Kehidupan sesungguhnya saat kamu tak lagi mengenakan seragam (sekolah) ataupun status (mahasiswa/kuliah). Ya, 2016 ini saya sungguh menerjemahkan kalau apa yang saya jalani adalah sungguh menjadi manusia dan memulainya.

After #throwback2015 via buku harian, saya menemukan banyak luapan emosi yang lebih serius di awal tahun daripada perasaan menye-menye yang hobi saya curhatin zaman SMA atau kuliah. Mostly tentang kerjaan. Bertemu dengan teman baru dari dunia kerja juga menghadirkan kisah baru bagi saya, ajaibnya saya menemukan kecocokan dan seakan telah mengenal sejak lama pada salah satunya. Bahasa sederhananya adalah klik.

Soal keputusan dan pembelajaran adalah hal besar yang terjadi dalam hidup saya di 2016 ini. Tentang bagaimana kita menggantungkan kepercayaan kepada diri sendiri atas keputusan yang kita ambil, bukan pada keputusan orang lain agar dapat menyalahkan pada nantinya. Dan apapun keputusan yang telah kamu putuskan, tak pernah membuatnya baik untuk menghadirkan kata “kalau saja saya…”

2016 dan Perubahan
Perubahan itu sudah pasti ada, bahkan rasanya terasa besar di tahun ini. Hal ini dikarenakan sudah menasbihkan diri sepenuhnya jadi karyawan full time, maka jadwal bangun tidur hingga pergi tidur di kala weekday seakan menjadi ritme. Imbasnya ke weekend yang sangat berharga digunakan untuk berisitirahat atau bertemu dengan orang yang menjadi prioritas saya. Imbasnya terlihat dengan postingan blog yang sangat menurun drastis. Mostly postingan tahun ini tentang review, baik film, lagu, buku atau juga tempat makan oke.

Perubahan dalam diri saya yang paling saya rasakan adalah kemuakan dengan media. Katakanlah apatis dengan politik dibanding dengan seorang saya di 2-3 tahun lalu dihitung mundur. Dan mulai jenuhnya dengan sosial media. Ya, saya sendiri tidak percaya akan sampai di titik ini. Titik jenuh dengan sosial media yang dihadapi oleh seorang social media freak hahaa. That’s a life, reader. Kamu benar-benar menemukannya ketika telah meningalkan bangku bernama pendidikan dan melebur sesungguhnya bersama masyarakat. Rasanya merindukan teman-temanmu dan kehidupan di dalamnya pada hari-hari yang melelahkan dan sepi.

2016 dan Kehidupan
Makna kehidupan dan semangat itu saya temukan justru dari orang-orang di sekitar, khususnya teman dekat atau saudara. Saat bersilaturahim dan mendengarkan ceritanya, saya selalu merasa bersyukur dengan hidup yang Tuhan hadiahkan saya di saat ini. Tidak jarang juga merasa malu atas apa yang saya sikapi dengan hidup ini. Banyak hal yang diajarkan oleh orang yang saya temui tentang kehidupan, tanpa sepengetahuan mereka. Dan berkali lipat syukur adalah berkah yang Tuhan berikan dalam bentuk orang tua saya saat ini.


Aah 2016 ini ternyata akan benar-benar berakhir. Rasanya begitu cepat, mungkin karena tidak banyak menorehkan banyak postingan di rumah kedua ini. Yang pasti, kehidupan itu akan memasuki rimbanya di 2017 nanti. Entah kenapa saya meyakini hal itu.

Bye, 2016 !


Kamu yang Sebatas Punggung




Hari itu tidak ada pelangi
Juga bukan baju warna warni yang aku atau kamu kenakan
Hanya hitam dan hijau
Hari itu tidak ada hujan yang genangannnya tak pernah gagal mengantarkan kenangan
Hari itu hanya ada kamu dengan punggung kokohmu yang membisu menatapku
Tak ada pertemuan bola mata, apalagi tegur sapa
Hari itu hanya aku yang berbicara dengan sepi saat melihatmu
Tapi kamu tak pernah gagal mengantarkan energi positif dalam sunyi
Menumbuhkan kebun bunga dalam hatiku
Membentuk lengkungan senyum di setiap waktu
Kamu yang hanya sebatas punggung kokoh yang membisu
Tak pernah gagal mengirimkan energi positif untukku
Kamu yang hanya sebatas punggung kokoh yang membisu

Bisakah kita bertemu dan bertegur sapa ?


November 5, 2016

Banda Neira, The Songs I Wanna Hear with You

Hasil gambarHasil gambar






Semuanya berawal dari Provoke edisi Maret 2016 yang membuat saya pada akhirnya menambahkan Banda Neira dalam list grup indie favorit. Grup vokal indie yang digawangi Rara Sekar dan Ananda Badudu ini masuk di salah satu rubrik Provoke yang membahas tentang album baru mereka, yaitu Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Atas kekepoan saya ditambah saat itu sedang keranjingan menggunakan aplikasi music streaming, khususnya Joox dan Deezer, maka penemuan lagu-lagu Banda Neira terasa mudah (kok jadi mirip promo gini sih -___-)

Well, intinya sih melalui aplikasi music streaming itu saya bisa mendengarkan lagu-lagu di album Banda Neira dan menjadikannya lagu pengantar tidur. Yang pada akhirnya tentu saja berefek jadi jatuh cinta dengan lagu-lagu mereka. You guys for fans of Dandelion, Adhitia Sofyan have to listen Banda Neira. Tapi sebelumnya, saya review dulu ya beberapa lagu dari dua album mereka supaya kalian lebih yakin. Dan karena memang udah niat banget ke diri sendiri untuk ngereview album mereka dari sekitaran Maret-April lalu, tapi apa daya saya baru bisa menebus dosanya di masa-masa ini. Maapkeun hehe

Banda Neira. Cantik banget nggak sih namanya. Apalagi lagu-lagunya. Genre yang diangkat lebih ke akustik dan musiknya sungguh menenangkan. Dari 2 album yang sudah saya dengarkan, yaitu Berjalan Lebih Jauh dan Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti rasanya sulit memilih lagu mana yang nggak asyik. Semuanya sangat ciamik, karena kekuatan lirik dan juga tema-tema yang tidak pasaran (mungkin karena indie).

Lagu favorit saya adalah Di Beranda yang ada dalam album Berjalan Lebih Jauh. Lagu ini bercerita tentang sepasang orang tua yang memiliki kepercayaan begitu besar kepada anaknya diiringi dengan kebebasan yang mereka berikan. Lagu ini juga sangat romantis untuk orang tua yang tak lagi muda untuk saling menguatkan dan tetap punya visi yang sama sampai akhir. Berikut petikan liriknya

Oh Ibu, tenang sudah. Lekas seka air matamu
Sembabmu malu dilihat tetangga
Oh Ayah, mengertilah rindu ini tak terbelenggu
Laraku setiap teringat peluhnya
Kini kamarnya teratur rapi
Ribut suaranya tak ada lagi
Tak usah kau cari dia tiap pagi
Dan jika suatu saat, buah hatiku buah hatimu
Untuk sementara waktu pergi
Usahlah kau pertanyakan kemana kakiknya kan melangkah
Kita berdua tau, dia pasti pulang ke rumah
Pulang ke rumah

Setiap mendengarkan lagu ini, personally rasanya seperti diberikan sayap untuk terbang dengan tenang tanpa terganggu pertanyaan “Mau kemana?” “Pulang jam berapa?” Karena bagaimanapun juga saya—yang diberi sayap ini—nantinya akan kembali pulang.

Di sisi lain, lagu ini mengajak kita berimajinasi kalau kelak saat kita menjadi orang tua, akan ada masa ketika kita akan ditinggalkan oleh anak kita. Terbayang di usia kita yang sudah tak lagi muda, juga anak kita yang telah beranjak dewasa membutuhkan waktu dengan dunianya. Duh tiba tiba sedih, yaudah lanjut ke lagu selanjutnya aja. Hiks

The next song adalah Sampai Jadi Debu dari album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti. Ini lagu romantis yang cocok didengarkan ketika kamu dan pasanganmu telah berambut putih dan saling bergandengan tangan di atas bukit sambil menyambut sunrise. Well, mungkin ini suasana yang saya inginkan ketika mendengarkan lagu ini. Kenapa ? Karena kamu perlu tahu petikan liriknya yang ‘dalam’ tapi nggak menggombal, makanya harus ditujukan untuk orang yang seharusnya.

Badai puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap pagi menjelang kau di sampingku, ku aman ada bersamamu
Selamanya
Sampai kita tua, sampai jadi debu
Ku di liang yang satu, ku di sebelahmu
Badai puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra
Tiap taufan menyerang, kau di sampingku
Kau aman ada bersamaku
Selamanya
Sampai kita tua, sampai jadi debu
Ku di liang yang satu, ku di sebelahmu


Hasil gambar

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya soal lirik yang kuat dan tema yang tidak pasaran, maka Banda Neira juga memiliki lagu lain yang masih jadi favorit saya, yaitu Pangeran Kecil. Lagu ini personally adalah my lullaby song karena liriknya pas banget.

Tidur, tidurlah sayang
Esok kan segera datang
Tutup buku kesayanganmu itu
Esok atau lusa, kita buka kembali
Tidur, tidurlah sayang
Malam terlalu larut untukmu
Simpan buku kesukaanmu itu
Tarik selimutmu, coba pejamkan mata
Beri tanda pada gambar yang kau suka
Rubah dalam gua atau mawar dalam kaca

Ada juga lagu Sebagai Kawan yang isinya pesan mengingatkan, bukan menggurui. Makanya rasanya tenang sekali mendengarkannya.

Jangan berdiri di depanku, karna ku bukan pengikut yang baik
Jangan berdiri di b’lakangku, karna ku bukan pemimpin yang baik
Berdirilah di sampingku sebagai kawan, kawan, kawan, kawan, kawan
Sebagai kawan

Meski Banda Neira mengusung genre akustik dan kebanyakan lagunya cocok jadi pengantar tidur nyenyakmu, ada beberapa lagu yang juga asyik didengarkan sambil bersepeda atau memulai aktivitas di pagi hari. Coba saja dengarkan Berjalan Lebih Jauh atau Senja Di Jakarta.

Bangun… Sebab pagi terlalu berharga tuk kita lewati dengan tertidur
Bangun… Sebab hari terlalu berharga tuk kita lalui dengan bersungut sungut
Bangun..sebab tidur teramat berharga dan kita jalani, jangan menyerah
Berjalan lebih jauh, Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna. Bersama…bersama

Review lagunya cukup sampai di sini, karena kamu pasti lebih harus mendengarkannya langsung, readers. Kalau ditanya, album mana yang lebih favorit dari dua album itu, maka akan sulit bagi saya untuk menjawabnya. Karena di masing-masing albumnya, Banda Neira menghadirkan lagu yang membuat saya jatuh cinta. Meski tidak bisa dipungkiri, ada kematangan vokal Rara yang lebih dewasa dan elegan dalam album Yang Patah Hilang, Yang Tumbuh Berganti. Lirik-lirknya juga lebih kuat di album yang kedua.

Yang pasti lagu lagu Banda Neira adalah lagu-lagu yang saya ingin dengarkan bersama kawan, seseorang di masa depan nanti atau anak-anak, karena lagunya yang universal.

Dan untuk readers yang setelah ini jadi ngefans sama Banda Neira, kita doakan saja semoga Banda Neira segera selesai dari kevakumannya dan menggelar intimate concert. Aamiin


Terima kasih sudah membaca.


July 7, 2016

Rafting & Tracking : Fun First Experience




Hello, readers

Postingan kali ini bukan yang fresh from the oven sih tapi saya mencoba menggali ingatan dan (akhirnya) menyempatkan untuk sharing fun first experience saya di pertengahan Februari lalu. Its about my first experience for Rafting and Tracking in Bumi Bhatara Adventure Camp. Anyway, ini bagian dari outing FALGA (FINANCE, Accounting, Legal and General Affair) di kantor saya yang sebelumnya (e-commerce fashion).

Perjalanan kami dimulai di Jumat, 19 Februari 2016 setelah ‘tutup toko’ tentunya a.k.a malam hari. Perjalanan dan tumpukan lelah bekerja selama seminggu mengantarkan kami tidur pulas sesampainya di venue. Kebetulan kami tiba sekitar jam 2 pagi saat gelap masih menyelimuti.

Paginya, saat matahari mulai menampakkan diri perlahan, kami baru menyadari kesejukan dan dekatnya alam di sekitar kami. Terlebih lagi suara arus sungai yang terus terdengar, kini terlihat di depan mata dan menarik kami untuk segera melakukan rafting.

Jembatan Gantung di atas Sungai

Setelah perut kami terisi penuh (re: sarapan), kami melakukan persiapan untuk rafting. Game singkat yang tujuannya untuk mengetahui seberapa siap kita melakukan rafting ini menguji konsentarsi dan fokus kita. Hal ini penting, karena saat melakukan rafting nanti, kita akan bertemu dengan derasnya ombak dan rintangan lain. Nah, untuk melaluinya akan ada aba-aba dari instruktur yang membutuhkan konsentrasi dan fokus untuk menjalankannya.
Game singkat penguji konsentrasi

Sebelum kode-kode arahan itu diberikan, kami dibagi beberapa tim terlebih dahulu. Satu kelompok terdiri dari 5 orang dan 1 orang pemandu. Pembagian kelompok dalam perahu ini juga perlu diperhatikan antara cewek dan cowok serta postur tubuh. Tujuannya supaya bisa saling mengimbangi saat mendayung nanti. Setelah pertukaran personil yang diarahkan oleh si pemandu, maka tim saya pun terbentuk. Bersama Aji, Liyas, Icha dan Mbak Wen serta 1 orang pemandu..kami siap mengarungi sungai dengan perahu karet berwarna kuning.

Our Team

Kode arahan yang perlu kita perhatikan diantaranya adalah “kiri maju, kanan mundur”, “kiri mundur, kanan maju”, “maju bareng”, “mundur bareng”, “pindah kiri”, “pindah kanan”  dan “boom.” “Kiri maju, kanan mundur” berarti yang menduduki posisi kiri di perahu harus mendayung maju. Dan yang berada di sisi kanan perahu harus mendayung mundur. Sementara “pindah kanan” berarti mereka yang duduk di posisi kanan perahu harus pindah ke posisi kiri dan yang sudah berada di posisi kiri tidak perlu berpindah. Begitu juga sebaliknya dengan instruksi “pindah kiri”.

 Untuk maju dan mundur, kita harus mengingat benar posisi kita saat berada di perahu karet, apakah berada di kanan atau kiri. Sehingga bisa menjalankan instruksinya dengan baik dan benar. Di sinilah mengapa kita perlu diajak warming up untuk fokus dan konsentrasi sebelum rafting. Karena, pada saat bermain, tidak jarang kami perlu sekian detik untuk mencerna dan mengingat kembali berada di posisi kanan atau kiri kah kami. Sementara “boom” digunakan jika terdapat ranting pohon yang menjulur yang akan kita lewati. Hal yang harus kita lakukan adalah menunduk supaya tidak terkena ranting tersebut.
Our Team #maapinmukaorangyangpakebajukuning
Selain kode-kode arahan tersebut, kita juga diajari cara memegang dayung dan mendayung yang benar. Untuk soal ini, mungkin saya kurang mahir dalam mempraktikkannya. Hehe.











Perjalanan rafting menempuh jarak sekitar 10km ini menghabiskan waktu hampir 4 jam. Kami mengakhirinya pukul 13.00 dan kembali ke Bumi Bhatara Adventure Camp menggunakan mobil pick up. Ya begitulah adanya. Tapi cuaca yang sejuk membuat kita kedinginan sepanjang perjalanan 15 menit-an itu.

Transit makan gorengan

Menjelang sore, kami menjalani team building yang nggak kalah fun. Gamesnya cukup variatif dan menyenangkan.

Salah satu games dalam Team Building

And then…keesokkan paginya, lebih tepatnya pagi buta jam 3 pagi kami berangkat menuju Gunung Papandayan. Untuk dapat menuju ke starting poin ke pendakian, kami membutuhkan waktu sekitar 1 jam menggunakan mobil pick up.

Penampakan naik mobil pick up (taken after tracking)

Tujuan kami untuk hunting sunrise nyatanya tak mampu kami dapatkan dari spot yang baik. Sebagian besar dari kami adalah pendaki pemula sehingga tidak dapat mencapai spot yang pas untuk melihat sunrise di waktu yang tepat. Belum lagi perjalanan menuju ke puncak ditemani dengan aroma belerang yang cukup menyesakkan. Kami menguatkan satu sama lain dan berjalan beriringan pada awalnya. Karena saat menjelang sampai puncak, jalanan hanya berbentuk setapak yang membuat kita terpaksa berjalan sendiri-sendiri.

Saat Sunrise masih malu malu menampakkan diri

Setiap diri kami masing-masing tentunya melakukan persiapan. Yang utama soal pakaian. Ada yang menggunakan lima lapis, ada juga yang sok-soakan hanya menggunakan celana boxer dan jaket jeans. Yup, that was one of my silly friends, Aji. Salut juga sih dia bisa melewatinya sampai akhir dengan kostum 100% pendaki pemula. Haha

with Aji and his super costume
Tetapi akhirnya kami berhasil sampai di tempat—yang cukup tinggi untuk mengambil gambar. Duduk melihat sunrise dan udara yang sangat sejuk.

Take a picture everywhere, termasuk pose berasa kasur rumah
with Mbak Nurul dan background bau belerang
Setelah puas foto-foto dan panggilan alam yang mengharuskan turun, kami pun bergegas menuruni Papandayan. Saat turun, matahri sudah menjadi teman. Tidak lagi gelap seperti saat mendaki dan sangat menakjubkan ketika mengetahui track yang kami lewati semalam sungguh sangat mencekam dan terjal.

First experience yang saya rasakan ini sungguh fun. Sebelumnya tidak pernah sekalipun bermimpi untuk ikut-ikutan naik gunung. No, honestly I haven’t. Tapi saat ada kesempatan, naik gunung nggak terlalu buruk sih. But maybe, I still prefer beach with blue colour around me than mountain. Tapi nggak menutup kemungkinan juga untuk suatu saat bisa naik gunung lagi yang lebih seru dan orang-orang tersayang.

Terima kasih untuk teman-teman FALGA untuk semua support yang melahirkan my first fun experience ini.



Terima kasih juga untuk readers yang sudah membaca sampai selesai. Semoga pelajaran rafting—seinget saya—dapat bermanfaat.





Bareng Widya yang 'nyekokin' lagu-lagunya Monita, ceritanya di sini











June 12, 2016

Movie Review : Wadjda



Wadjda hanya seorang gadis kecil tomboi yang ingin naik sepeda dan mengalahkan Abdullah, temannya. Tetapi karena di negerinya, sepeda hanya diperbolehkan untuk anak lelaki. Maka, dia harus berjuang keras untuk dapat meraih mimpinya itu. Terlebih lagi, ibu Wadjda tidak ingin membelikan sepeda untuk anak perempuan satu-satunya itu.

Wadjda yang menginginkan sepeda

Wadjda tidak pantang menyerah. Banyak cara dan usaha yang dia lakukan untuk dapat membeli sepeda impiannya—yang terpajang di toko ujung jalan. Mulai dari membuat gelang dan menjualnya, menyampaikan surat cinta kakak kelas agar mendapat upah, hingga membuat kompilasi lagu-lagu untuk penjaga toko sepeda (supaya sepedanya tidak dijual ke orang lain).

Wadjda yang sedang membuat gelang untuk dijual

Sepeda yang dinginkan Wadjda harganya 800 riyal. Sementara tabungannya hanya 87 riyal. Ibunya tentu saja tidak mau menambal kekurangan untuk membeli sepeda itu. Alasannya tentu sama seperti orang Arab lainnya, mereka khawatir jika anak perempuan bermain sepeda dan terjatuh maka akan merusak vagina mereka. Sehingga mereka tidak perawan lagi.

Perjuangan Wadjda harus lebih keras lagi ketika barang jualannya—gelang buatan tangannya yang dijual ke klub sepakbola—disita oleh Nona Hussa, Kepala Sekolah Wadjda karena dianggap haram dan tidak diperbolehkan.

Akhirnya harapan Wadja hanya satu, yaitu masuk klub agama dan mengikuti kompetisi menghafal surah Al-Quran yang berhadiah 1000 riyal. Wadjda, si anak tomboy yang masih terbata membaca Al Quran sesuai tajwid dan tartil belajar dengan tekun untuk dapat menjadi juara pertama. Dia menggunakan uang tabungannya untuk membeli Al Quran dan tutorial di dalamnya sebagai bahan belajar dan berlatih.

Wadjda bersama teman-temannya di Klub Agama

Wadjda harus bersaing dengan Salma yang tartilnya sangat bagus dan Nourma yang jagoan di bagian tajwid. Tetapi, berkat ketekunan dan kegigihannya, Wadjda berhasil membawa pulang gelar juara. Sayangnya hadiah 1000 Riyal itu tidak ikut ia bawa pulang. Begitu Nona Hussa mengetahui rencana Wadjda dengan uang 1000 Riyal itu, maka dia memutuskan untuk menyumbangkan uang 1000 Riyal itu untuk Palestina. Di part ini mungkin readers akan merasakan pergulatan batin yang menyayangkan, namun tidak bisa menyalahkan.

Wadjda yang sedang menjalani kompetisi menghafal Al Quran
Nona Hussa

Abdullah, calon rival balapan sekaligus temannya yang mengetahui hal tersebut menawarkan untuk memberikan sepedanya kepada Wadjda. Tetapi Wadjda hanya menjawab “Jika kamu memberikan sepedamu, bagaimana kita bisa balapan?”

Abdullah setelah mendengar jawaban dari Wadjda

Meski tomboy, Wadjda tidak bisa menyembunyikan air matanya di depan ayahnya. Sayang, ayahnya yang hanya memiliki waktu terbatas dengannya tak mampu mendengarkan keluhan dan ceritanya. Ayah Wadjda tidak selalu berada di rumah, dia hanya datang beberapa minggu sekali. Tidak dijelaskan bagaimana status ayah dan ibu Wadjda sesungguhnya. Kalau yang saya tangkap, hubungan mereka tidak direstui oleh keluarga ayah Wadjda yang keturunan dari kerajaan. Sehingga keluarga ayahnya masih mencari istri potensial untuknya. Terlebih lagi ibu Wadjda tidak mampu memberikan keturunan lagi.

Lalu, bagaimana dengan impian Wadjda ? Mampukah ia balapan sepeda dengan Abdullah ? Jawabannya bisa kamu temukan denagn menonton film ini.

Btw kalau readers bertanya-tanya mengapa Wadjda ingin sekali balapan sepeda dan mengalahkan Abdullah ? Jawabannya karena pada suatu hari Abdullah pernah menarik kerudung Wadjda dan dia tak mampu merebutnya lantaran Abdullah membawanya sambil menaiki sepeda. Sebenarnya ini hanya tingkah iseng anak lelaki yang sangat umum, meski begitu Abdullah sangat sayang pada Wadjda.

Salah satu scene favorit saya adalah ketika Wadjda menangis lantaran tersinggung saat sepeda Abdullah diberikan roda tambahan untuk Wadjda belajar sepeda. Untuk menghentikan tangisannya, Abdullah menawari uang 5 Riyal kepada Wadjda.


Scene lain yang menunjukkan kalau Abdullah ini sayang sama Wadjda adalah ketika dia menemani Wadjda ke Derah (nama daerah). Wadjda menemui Iqbal (supir ibunya) yang tiba-tiba memutuskan berhenti mengantar jemput ibunya ke tempat kerja. Padahal tempat ibu Wadjda bekerja membutuhkan waktu 3 jam perjalanan dengan mobil. Oleh karena itu, Wadjda mencoba membujuk Iqbal untuk kembali.  
Abdullah dan Wadjda perjalanan pulang dari Derah

Film besutan Sony Pictures tahun 2012 ini meraih penghargaan Winner Cinema For Peace Award Interfilm Award Venice Film Festival dan Winner Audience Award Best Picture Los Angeles Film Festival. Film ini ringan namun sarat dengan banyak pesan moral dan pelajaran budaya Negara Arab. Karakter anak-anak yang sangat polos dan jujur ini semakin membuat film ini nampak natural.

So guys, happy watching.


Wadjda dan Abdullah yang balapan sepeda


















© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis