June 8, 2015

Senin Di Waktu Senja



Hari ini Senin. Tepat kusadari saat senja mula menampakkan dirinya. Lelah tidak sedang menggelayut menutup Senin. Padahal 3 bulan terakhir, Senin adalah puncak sekaligus awal dari lelah yang berselimut.
Bergelut macet, menyeka keringat, menghela nafas hingga menahan dahaga adalah warna Senin di waktu senja.

Kini aku terduduk manis di sini. Di tempat favoritku mengajak tinta menari pada kertas putih. Dengan rasa syukur tanpa lelah yang berselimut atau menggelayut. Ini Seninku di waktu senja yang pernah kumiliki lalu kehilangan kemudian kembali. Namun entah, jika ia harus kembali pergi pada suatu waktu. Karena Senin senja juga titipanNya, yang mampu pergi dan kembali atas kehendakNya.


June 2, 2015

Culinary Anniversarry



Happy Culinary Anniversarry, My Gurls


“Kadang hidup butuh rencana, tapi tidak jarang dia berjalan begitu saja”

Berjalan begitu saja atau dapat dikatakan dadakan. Saya rasa itu kata yang tepat untuk menggambarkan acara meet up kami kemarin. Saya bersama sahabat saya, yaitu Marisa dan Radini memang telah merencanakan untuk dapat berwisata kuliner bersama. Tetapi, kami tidak pernah menentukan tanggal. Hingga pada Jumat lalu, saya mengajak mereka dengan sangat dadakan. Langsung deh Minggunya cuus.

Katakanlah sangat egois, karena saya sangat terobsesi untuk mencoba Macaroni Panggang di Bogor. Iya, makanan yang jadi cem-ceman sejak 3 bulan yang lalu. Akhirnya dengan rencana dadakan, kami tidak menyiapkan peta makanan mana yang ingin kami tuju. Karena Marisa menganut paham “kemana aja, asal bareng kalian” dan saya yang sudah sangat menggebu ingin menjajal Macaroni Panggang, maka meluncurlah kami ke sana

Kami memutuskan menempuh perjalanan menggunakan commuter line. Saya dan Marisa berangkat bersama dari Stasiun Sudimara 09.30  dan berganti kereta di Stasiun Tanah Abang. Dari stasiun Tanah Abang, kami menunggu kereta jurusan Bogor di peron 3. Sementara itu Radini menunggu di Stasiun Lenteng Agung dan naik kereta yang saya dan Marisa naiki.

Perjalanan menuju Bogor dengan kereta ternyata tidak secepat yang saya bayangkan. Saya pikir stasiun Bogor hanya berbeda 3 atau 4 stasiun dari rumah Radini di Lenteng Agung, tetapi ternyata dugaan saya salah. Kami masih harus melewati lebih dari 5 stasiun dari Stasiun Lenteng Agung. Akhirnya kami sampai di Stasiun Bogor sekitar pukul 11.30.
Saya cukup kagum dengan lahan parkir yang disediakan di Stasiun Bogor karena sangat luas. Mungkin karena banyak rakyat Bogor yang bekerja di Jakarta dan menggunakan kereta sebagai transportasi utama. Jadi mereka menitipkan kendaraan pribadi di stasiun. Maka dari itu, lahan parkir dibuat begitu luas. Itu hanya pemikiran saya saya sih. Tidak tahu alasan sesungguhnya. Anyway maaf tidak sempat foto lahan parkirnya.
   
      Setelah berhasil keluar dari Stasiun Bogor, kami disambut dnegan limpahan angkot hijau yang berjajar menanti penumpang. Berdasarkan hasil browsing, angkot menuju MP bernomor 03. Maka dnegan lincah mata saya menyusuri angkot yang tumpah ruah di jalanan, tapi lucunya semua angkot yang ada bernomorkan 03. Mereka hanya dibedakan jurusan dan warna strip berbeda. Ada yang hijau-biru, hijau-oren dan hijau-kuning. Akhirnya kita naik angkot hijau-oren yang saya lupa jurusannya kemana. Yang pasti, setelah ditanya oleh navigator kami (Radini), angkot itu melewati Macaroni Panggang.

                Btw Radini menjadi navigator karena dia pernah kulineran ke Bogor sebelumnya.

            Angkot terisi penuh dan jalanan lumayan padat merayap di beberapa titik. Kami melewati Kebun Raya Bogor dan Istana Cipanas. Ada pertanyaan yang menggelitik dan belum saya ketahui jawabannya hingga saat ini, yaitu “Apa fungsi payung yang saling menggantung di bawah sebuah pohon besar dan hampir semua lampu jalan sepanjang Kebun Raya Bogor?.” Saya sempat berbisik pada Marisa (kebetulan dia duduk tepat di sebelah saya), tetapi dia juga tidak mengetahui jawabannya.

Perjalanan dari Stasiun Bogor ke Macaroni Panggang menggunakan angkot menghabiskan waktu ±10 menit. Kami diturunkan di Taman Kencana. Taman Kencana ini surganya kulineran, karena berjajar banyak café. Mulai dari Macaroni Panggang, Lasagna Gulung, Kedai Kita, Rumah Cupcakes, Warung Gumbira, Choco Lava, Es Durian,  dan lain lain. Tujuan utama sudah pasti Macaroni Panggang.

Rumah tua yang disulap menjadi café ini cukup nyaman dan nyentrik. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai. Awalnya kami khawatir tidak akan mendapat tempat duduk karena sangat ramai. Tetapi allhamdulillah, kami menemukan tempat di luar yang cukup minimalis untuk kita bertiga. Sayangnya, saat sedang melihat menu, saya pribadi merasa terganggu karena asap rokok yang datangnya dari belakang saya. Akhirnya kami bertanya kepada waitress apakah masih tersedia tempat di dalam. Allhamdulillah masih. Kamipun pindah ke dalam ruangan.

Suasana Di Dalam Macaroni Panggang
Piano Tua di Macaroni Panggang

Menu Macaroni Panggang ini dibagi 2, yaitu biasa dan special. Perbedaan mendasar yang saya tahu, macaroni panggang special menggunakan bacon, sementara yang biasa tidak. Setelah terbagi 2, macaroni panggang ini terbagi dalam 3 ukuran, yaitu small, medium dan large. Kami memesan porsi medium tanpa bacon alias biasa. Selain itu, kami juga pesan omelette cheese mushroom, lemon tea dan fruit punch.

Macaroni Panggang Medium dan Omelette Cheese Mushroom

Setelah puas foto-fotoiin Macaroninya, kamipun mulai menjajalnya. Ternyata rasanya…..honestly biasa dan bahkan lebih enak macaroni schotell yang sering dibuat Radini kalau kami main ke rumahnya. Hehe. Saya hanya berhasil menghabiskan 3 potong, begitu juga dengan Radini. Sementara Marisa menyerah di potongan pertama. Beruntungnya, sisa yang tidak sanggup kami habiskan dapat dibawa pulang (take away).  Anyway di Macaroni Panggang ini ada musholla kecil yang terpisah dan sangat nyaman. Jadi kamu nggak perlu khawatir untuk sholat dimana. Sayangnya, asap rokok masih menghantui kami karena meski sudah berada di dalam ruangan, tiba-tiba kami mencium asap rokok yang berasal tepat dari belakang saya. Ukh. Sangat mengenaskan harus menghirup asap rokok di No Tobacco Day ini.

Selfie di Macaroni Panggang
Kotak Pembungkus Macaroni Panggang yang sekaligus berfungsi sebagai hiasan
 Perut kami rasanya sudah penuh tapi harus melanjutkan perjalanan. Meski tidak tahu kemana.
Radini bilang, di WarGum (Warung Gumbira) ada Snow Affogato, ice cream dengan cotton candy gitu dan es campur yang sejenis dengan Sumobo dan Hongtang. Kebetulan Marisa ingin mencobanya. Akhirnya kita keluar dari Macaroni Panggang setelah membeli untuk dibawa pulang. Sementara Radini dan Marisa membeli Lasagna Gulung yang berada di sebelahnya.

Perjalanan ke WarGum sebenarnya bisa langsung aja tapi kami memutar dengan tujuan lihat lihat. WarGum ini menurut saya konsepnya seperti Taman Jajan gitu karena ada berbagai macam penjual dengan aneka ragam makanan dan minuman. Kemudian pengunjung dapat bebas memilih tempat duduk sesuka hati mereka. WarGum ini penuh sekali kami nyaris jalan ke ujung untuk kemudian mendapatkan tempat duduk. Ya, tempat duduk yang di depannya persis MP. Kalau tahu begitu, kami tidak perlu memutar jalan tapi langsung nyebrang. Tapi biarlah.
Jalan Setapak di Depan Taman Kencana
Warung Gumbira yang bersebrangan dengan MP
                Pesanan datang cukup lama. Snow Affogato ini adalah es krim, pudding dan perasa green tea sauce untuk dituangkan di atas cotton candy. Puddingnya yang kecil banget rasanya nyummy dan cotton candynya terasa berbeda dari permen kapas di pasar malam yang warnanya pink. Cotton candy ini akan terasa begitu keras sampai di mulut, persis permen.

Snow Affogatto Green Tea

Nice Ice

Suasana café yang cukup sejuk dan asri membuat kami lama menghabiskan waktu di Warung Gumbira.
Suasana WarGum
Suasana WarGum yang mirip rumah nenek
Waktu kami diisi tentang obrolan ini itu dan ritual orang jalan-jalan lainnya—selfie. Akhirnya kami berangkat dari Warung Gumbira menuju stasiun hampir pukul 16.00. 

Selfie cantik di rumah nenek a.k.a WarGum
Mungkin ini bukan wisata kuliner mirip orang kebanyakan yang mengunjungi minimal 3 tempat makanan atau minuman. Kami terlalu lelah untuk bangkit di setiap habis makan dan rasanya perut kami mudah sekali merasakan kenyang. Benar-benar tipikal orang yang nggak cocok untuk wis-kulan. Haha. Sebenarnya, masih ada satu menu yang yang saya ingin coba, yaitu Ice Pot. Ice Pot atau es krim tanah ini adalah es krim yang dikemas di dalam pot dan menyerupai tanaman. Kabarnya ada di Markazfood yang dekat dengan Kampus IPB. Namun karena arahnya berkebalikan dari Macaroni Panggang, akhirnya kami belum mencari tempat itu.

Makan Snow Affogatto

Anyway, saya sangat bersyukur karena moment yang nggak pernah kami rencanakan dengan matang ini kemudian berjalan begitu saja. Maklum, kami bertiga sangat sulit menemukan jadwal yang pas untuk bisa jalan atau sekedar meet up. Bahkan jadwal biasanya diarrange sebulan sebelum hari H. tidak jarang juga tiba-tiba gagal atau terunda. Ajaibnya acara dadakan ini berhasil terselenggara dengan rasa yang selalu sama. Waktu seakan tak pernah cukup menyediakan tempatnya bagi kami untuk bercerita. I miss you girls. Hope this isn’t be the last. Aamiin.

with Radini
With Marisa
Anyway, mungkin perjalanan ini sebagai hadiah  bagi persahabatan kami yang telah menginjak 10 tahun di Juni nanti.

Price List
Macaroni Biasa
Small                     : Rp. 23.000
Medium               : Rp. 67.000
Macaroni Special
Small                     : Rp. 35.000
Medium               : Rp. 120.000
Fruit Punch         : Rp. 29.000
Lemon Tea          : Rp. 15.000
Lasagna Gulung Ayam    : Rp. 83.000
Lasagna Gulung Beef      : Rp. 83.000
Snow Affogato                  : Rp. 25.000
Nice Ice                           : Rp. 25.000
Angkot Stasiun Bogor- Taman Kencana : Rp.4000


May 23, 2015

Cactus In The Valley




"Cactus In The Valley"
by Lights


I never meant to wither
I wanted to be tall
Like a fool left the river
And watched my branches fall
Old and thirsty, I longed for the flood
To come back around
To the cactus in the valley
That's about to crumble down

And wipe the mark of sadness from my face
Show me that your love will never change
If my yesterday is a disgrace
Tell me that you still recall my name

So, the storm finally found me
And left me in the dark
In the cloud around me
I don't know where you are
If this whole world goes up in arms
All I can do is stand
And I won't fight for anyone
Until you move my hand

And wipe the mark of madness from my face
Show me that your love will never change
If my yesterday is a disgrace
Tell me that you still recall my name

Oh, here
In the shadow
Here I am
And I need someone by my side
It becomes so
Hard to stand
And I keep trying to dry my eyes
Come and find me
In the valley

And wipe the mark of sadness from my face
Show me that your love will never change
If my yesterday is a disgrace
Tell me that you still recall my name

Wipe the mark of madness from my face
Show me that your love will never change
If my yesterday is a disgrace
Tell me that you still recall my name

Tell me that you still recall my name, no
Tell me that you still recall my name, mm mm


May 17, 2015

Pelangi





Pelangi
Berdiri di ujung bukit
Menunggu siapakah dirimu ?
Pelangi,
Berbaju warna warni
Pada siapakah kau rentangkan pelukan itu ?
Pelangi,
Tersenyum manis merekah riang
Sampai kapan kau ‘kan memakainya ?
Pelangi,
Berdiri di ujung bukit
Tunggu aku melewati hujan badai ini



14 Mei 2015
Di kala hujan 18.05 WIB

May 13, 2015

Sebagian


Azan subuh bersiap memanggil dengan gesekan suara di ujung pengeras suara
Sebagian orang mengerjapkan matanya untuk bangun dan bergegas
Sebagian lagi baru saja dapat memejamkan matanya setelah bergumul dengan kegelisahan
Ibu memindahkan nasi goreng dnegan sap mengepul dari penggorengan ke piring
Sebagian orang bosan dan kenyang dengan menu sarapan nasi goreng
Sebagiannya lagi merindukan nasi goreng buatan tangan sang Ibunda di kala mereka dalam perantauan
Kadang manusia bertindak bodoh tanpa makna dengan meneteskan air mineral gelas melalui sedotan plastik
Sementara sebagian orang lain harus berjalan puluhan kilometer demi setetes air bersih
Sebagian orang hampir mati beku karena kedinginan di dalam ruangannya
Sebagian lagi terpanggang matahari sepanjang hari
Sebagian orang lelah berdiri
Sementara sebagian lagi justru bosan duduk terus menerus
Hidup ini terkadang bukan soal keadilan tapi menyeimbangkan untuk melengkapi
Untuk menyadari kemudian mensyukuri




© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis