March 5, 2015

Hujan (Day 5)

Karena hujan pernah menahanmu di sini
(Utopia – Hujan)



Aku tertahan di sana. Di hadapan air mata penyesalanmu yang turun tanpa henti. Seperti hujan yang tak berhenti semalaman pada hari sebelumnya. Aku memaaafkanmu dan menyeka air matamu. Tetapi, itu setahun  yang lalu.

Detik ini aku lebih ingin menyeka hujan yang turun di malam sebelumnya. Supaya aku mampu membelah malam dan menghampirimu. Tak apa, meski harus kujumpai kamu dengan sesosok pria yang bibirnya menyatu denganmu. Tak apa, meski hatiku akan tercabik di saat itu. Tak apa, meski mungkin aku akan meradang di kala itu. Tak apa, meski aku harus terbuang dengan rasa sakit. Tak apa, asal  bukan saat ini….saat mendengar kenyataan yang tersimpan setahun lamanya.

Tetapi, hujan pernah menahanku di sini. Hujan dari pelupuk matamu
5 Maret 2015
9.40 PM

*inspired by Hujan-Utopia

 

March 4, 2015

Nakal (Day 4)

“Nakal, yaa”

“Kalau iya, memang kenapa?”

Berat sekali memang memutuskan.  Apalagi harus membunuh perasaan di dalam diri sendiri. Tapi begitulah hidup. Kita tidak selamanya harus memelihara rasa iba kepada orang lain dengan mengorbankan diri sendiri. Sesekali kita harus tegas, berani memutuskan. Berani menatap lurus ke depan tanpa menengok ke belakang. Berani mengambil keputusan tanpa menciptakan penyesalan. Berani memilih tanpa ada lagi merintih.

Selamat Malam

4 Maret 2015

9.49 PM

March 3, 2015

Ketenangan (Day 3)



Apa itu ketenangan? Dan bagaimana menciptakannya ?

Ketenangan adalah  lebih dari terhindar dari suara bising. Ketenangan adalah menjalani tanpa resah dan rasa khawatir. Sebulan terakhir ini saya merasa tidak tenang, meski frekuensinya bisa loncat loncat dan tidak beraturan. Tetapi, ketidaktenangan adalah suatu hal yang mampu membunuh diri setiap orang. Setidaknya itu yang saya rasakan atas semua ketidaktenangan yang menghampiri.

Seperti yang sudah saya tuturkan, kalo ketenangan bukan hanya terhindar dari sebuah kebisingan. Ketenangan adalah persoalan hati. Ketenangan adalah sinkronisasi hati dan pikiran yang semuanya bersinergi menjalankan gerak langkah kita.

Kerikil kecil yang menjadikan masalah akan bersarang di kepala kita, menghantui pikiran kita setiap waktu dan akibatnya hati kita dipenuhi gelisah. Kalau urusannya sudah menyentuh hati, maka motorik kita seakan tak mampu lagi merespon otak kita. Apa yang ingin kita kerjakan tak sesuai dengan kaki yang kita langkahkan.

Ketidaktenangan yang membunuh sumbernya berasal dari pikiran. Terkadang saat overthinking, saya merasa otak saya tak memeberi ruang untuk tidur. Kemudian berujung tidak tidur tapi tak juga mampu beraktivitas, mungkin karena gelisah.

Belakangan saya menyadari sesuatu, kalau ketidaktenangan dan kekhawatiran yang membuncah hanya membutuhkan satu formula. Formula itu bernama keihklasan. Saya tak pernah tahu wujudnya tapi saat hati saya merasa tenang, saya menyimpulkan di situlah saya telah mengikhlaskan.

Memang, ikhlas ada suatu hal yang tak berwujud, tak bisa juga diucapkan ataupun diproklamirkan. Hanya orang yang telah ikhlas yang mampu memahami tanpa perlu mengumbarnya. Pada akhirnya organ yang bernama hati itu adalah sumber utama dari setiap kegelisahan. Dia akan mengirim sel – sel lain ke dalam pikiran, makanya jadi overthinking.

Sebenarnya ini hanya teori asal berdasarkan pengalaman. Tapi, karena itulah saya tahu mengapa ada lagu berjudul “Tombo Ati atau Obat Hati.” Dan beruntungnya, itu bukan hanya sekedar lagu, tetapi juga resep atas ketidaktenangan.

Terima kasih

Selasa, 3 Maret 2015

3.33 PM




March 2, 2015

Di Sebuah Angkutan Darat... (Day 2)


Selalu ada tinta dan halaman kosong yang tak bosan menjadi tumpahan. Bahkan saat tulisan ini dibuat, saya sedang berada di dalam angkutan umum .

 Jadi beginikah rasanya menulis dalam perjalanan. Perlu digarisbawahi kalau ini adalah menulis. Bukan mengetik dengan seperangkat gadget masa kini. Saya menulis dengan sebuah pensil mekanik.

Ternyata rasanya sulit, ditambah lagi jalanan Jakarta yang penuh ketidakpastian dan keberagaman. Mulai dari lubang sisa hujan, kemacetan hingga puluhan ekspresi wajah pengisi kemcaetan. Tapi percayalah, sesulitnya menulis di atas angkutan darat yang sedang berjalan tidak akan sesulit menghadapi gerbang kehidupan yang bernama realita.

Selamat malam dan terima kasih telah membaca



March 1, 2015

Masih Perlu Belajar (Day 1)




Assalamualaikum, Maret…

Di atas kertas minyak yang kemerah-merahan, aku mencoba menuliskan sebaris pesan untukmu. “Menurutmu, kemanakah aku harus melangkah Senin esok pagi ?”

Ah tidak, rasanya ada yang salah, maka aku memperbaikinya,” menurutmu, kemanakah aku harus melangkah Senin  esok pagi esok?”

Aku menggaruk kepalaku, meski tidak gatal sambil terus memperhatikan setiap kata  pada tulisanku. ”Menurutmu, kemanakah aku harus melangkah Senin esok pagi esok Senin pagi ?”

Ah rasanya masih salah..aku mengigit ujung pensilku sambil berpikir keras dan menulis…



© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis