January 8, 2014

The Guys Who We...


Ada 2 kesamaan yang saya temui pada 2 hal berbeda yang saya selami selama 3 hari terakhir ini. Okay, ringkasnya dari novel yang saya baca dan drama korea yang saya ikuti. Tokoh utama wanita pada akhirnya akan memilih lelaki lain—yang belum mencintainya—ketimbang lelaki satunya lagi—yang jelas-jelas mencintainya dan selalu berada di sisi si wanita itu kapanpun dibutuhkan

Saya baru menyadari hal itu ketika harus menerima ending Dating Cyrano Agency. Min Young akhirnya memilih Il Reok ketimbang Master (Seung Pyo). Padahal Master sampai tertusuk pisau hanya untuk menyelamatkan Min Young yang diculik. Sementara Il Reok? Dia hanya terus menafikkan perasaannya dan berulang kali memukul Min Young untuk mundur memerjuangkan cintanya.

Alasannya ? “I am not good man for you”

Sama persis dengan alasan Skan yang berubah drastis menghindari Krystal dalam novel Goddbye Happiness karangan Arini Putri—yang belum lama ini saya baca. Tokoh utama wanita akan selalu berjuang mendapatkan cinta pria—yang belum mencintainya atau menolak mencintainya. Tak peduli harus terluka ataupun menangis merana dibuatnya. Padahal di belakangnya telah ada pria lain yang selalu setia memayunginya, meminjamkan bahu untuk memebenamkan kepala, atau sehelai saputangan—penghapus air mata.

Tetapi, meski telah dipayungi, si tokoh wanita utama seakan terus berlari menembus hujan. Dia ingin mencapai pelangi dan memilikinya. Tak peduli kalau kehujanan bisa membuatnya sakit.

Itukah ciri khas Korea ? Karena kalau ditilik kembali, fenomena Boys Before Flowers juga mengisahkan Jandi yang mati-matian mempertahankan hubungannya dengan JunPyo, padahal ada Ji Hoo di belakangnya yang selalu ada di kala Jandi membutuhkannya.

Ada yang tahu jawabannya mengapa? Sekilas bukankah ini lucu ? Juga tidak adil atau bahkan bodoh ? Kenapa bersusah payah mengejar pria lain kalau ada good man yang selalu setia di belakangmu dan akan selalu ada kapanpun kamu butuh ? bukankah itu bodoh ? Menyia-nyiakan yang ada ? Seperti tidak mensyukuri apa yang telah dikirimkan Tuhan untukmu ?

Kalau dilihat kembali, saya kadang kesal sendiri. Tetapi, ada poin positif yang coba saya tangkap dari lelucon bodoh ini. Seperti yang kita—para penikmat drama atau novel dan sejenisnya—tahu kalau cerita akan selalu berakhir dengan tokoh utama wanita mendapatkan pria yang ia cintai. Dan si pangeran yang memayungi akan berlapang dada mengikhlaskan sambil berkata “Aku bahagia untukmu.”

Endingnya akan selalu begitu, bukan ?

It means di balik perjuangan si wanita, ia akhirnya mendapatkan pria yang ia cintai. Karena untuk mendapatkan apa yang kita inginkan itu tak pernah mudah. Harus ada proses, perjuangan, kerja keras, rasa sakit. Pada akhirnya, semua itulah yang menjadikan pertimbangan apakah kita dengan begitu saja mengakhiri hubungan—setelah kerja keras dan perjuangan yang besar untuk mendapatkannya—dengan si dia ?

Dan…ya jangan sudah capek-capek kita perjuangkan untuk mendapatkannya tapi justru diabaikan di kemudian hari. Seperti pulau indah kita di Timur Indonesia.

Tapi kembali lagi pada pria yang kita inginkan itu, benarkah ia yang memang kita butuhkan ?

Nah lho bingungkan ? Saya juga…

So, be realistic, girls


Sekian dan terima kasih atas waktunya.


we want





 OR



we need



Pertemuan dengan Path

Halo readers

Saya memiliki Path sejak 6 bulan lalu, tetapi baru aktif menggunakannya 4 bulan terakhir ini. Awalnya sempat baca postingan teman dalam blognya yang menceritakan kalau dia keranjingan bermain Path. Saat itu saya belum tahu fasilitas apa saja yang ada di dalam Path dan tidak tertarik juga dengan Path.

Karena pada akhirnya, semua sosial media yang baru—entah apa namanya—dan menjamur banyak digunjingkan orang, saya hanya tetap setia pada Twitter. Mengapa ? Karena Twitter memberikan informasi terupdate. Timeline cepat berubah dan tidak memunculkan apa yang dibicarakan orang pada 2 atau 3 hari yang lalu.

Ya, itulah yang terjadi pada news feed facebook saya. Sebagian besar isinya adalah update status teman saya—yang kebanyakannya lagi berisi curhatan—pada 2 atau 3 hari lalu tapi masih muncul juga. That’s why facebook saya seperti tidak punya kehidupan, karena saya jarang menggunakannya. Lihat saja sampai saat ini covernya belum diperbarui sama sekali. Haha

Sementara Twitter memberikan informasi terhangat, layaknya brownies yang baru keluar dari oven. That’s why saya lebih aktif bermain Twitter. Entah itu mantengin timeline atau meretweet  status dari yang saya follow.

Jadi, ada suatu hal yang membuat saya tertarik pada Path dan memutuskan untuk membuatnya. Pada suatu kesempatan, ada kuis di twitter—yang saya lupa hadiahnya—mengenai cerita Lupus. Iya, Lupus yang hobinya makan permen karet dan jambul khas itu lho. Bukan penyakit Lupus ya.

Pada kuis itu, peserta hanya diminta mengulas cerita yang menjadi favoritnya dan ada di buku Lupus judul apa serta alasannya. Dengan fasilitas 140 karakter yang disediakan Twitter saya memanfaatkannya sebaik mungkin. Meski tentu saja masih sangat super kurang puas. Beberapa hari kemudian saya iseng mencari siapa pemenangnya dan jawabannya. Di situlah saya bertemu dengan Path.

Maksud saya, ternyata banyak peserta yang menggunakan fasilitas Path dalam menjawab. Jadi, mereka tidak lagi terbatas dengan 140 karakter. Mereka bisa menceritakan cerita Lupus favorit mereka beserta alasannya dan terdapat di buku apa. Karena setiap moment yang kita share di Path bisa otomatis terhubung ke Twiter, Facebook, Tumblr, Foursquare (jika kita mengizinkan). Path ini  Di situ saya masih belum mengetahui apa itu Path. I mean, media sosial jenis apa sih Path itu.

Tetapi, saat ada kesempatan untuk akhirnya bisa bikin akun Path. Sayapun membuatnya melalui notebook. Saya lupa bagaimana caranya, yang jelas langkah saya terhenti saat ternyata untuk melanjutkan aktivitas di Path, saya harus mengaksesnya melaui smartphone. Langkah saya terhenti karena saat itu belum punya smartphone. Tetapi, saya sudah punya akun Path. Haha

Hingga 2 bulan kemudian, saya juga lupa bagaimana bisa mengakses akun Path yang sudah saya buat pada 2 bulan sebelumnya. Yang jelas, cukup lama juga sih untuk dapat mengakses Path via smartphone dikarenakan saya lupa menggunakan alamat email yang mana.

Sejak saat itu, saya mengamini teman blogger saya. Saya ikut keranjinga Path. Tetapi saya menemukan keesklusifan Path dan fungsi dari media sosial yang sesungguhnya. Path berbeda bagi saya…dia memiliki arti tersendiri.

Mengapa ? ada banyak alasan

Tunggu postingan selanjutnya ya.

6 months 600 momments

December 31, 2013

I'm Jealous, Boy !

I’m Jealous, Boy !
Oleh :
Fitria Wardani


Bibir mereka bertemu. Semakin erat dan terbawa nafsu. Sepasang kekasih itu terus menikmati sentuhan bibir satu sama lain di tengah keramaian pesta tahun baru. Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang memang meminta mereka melakukan hal menjijikan itu di depan umum. Tantangan menunggu perganNanda tahun di Pantai Sambolo. Zara dan Nico seperti dimabuk akan cinta, seperti ungkapan murah ‘dunia milik mereka berdua’ telah merantai mereka. 
            Mataku perih. Menumpuk air mata yang sebisa mungkin kutahan. Tak dapat lagi kusaksikan kekasihku menempelkan bibirnya di atas bibir orang lain yang tak dicintainya, yang hanya dijadikan tameng untuk hubungan kami. Aku tak mungkin meneteskan air mata saat ini, di depan kerumunan orang yang tertawa puas melihat adegan menjijikkan itu. Sesekali aku menundukkan wajahku, memilih untuk memandangi renda-renda cantik yang menghias taplak meja atau rangkaian bunga plastik yang indah serta api yang perlahan menggerogoti tubuh lilin dalam gelas mungil.
            Lalu sesekali aku mengangkat kepalaku, melihat Nico tak sedikitpun melepaskan bibirnya dari bibir milik Zara. Kutundukkan kembali kepalaku dan kulirik arloji manis pemberian Nico 2 hari yang lalu sebagai hadiah ulang tahunku.
            Usai. Sudah 60 detik berlalu, waktu yang diminta sebagai tantangan adegan menjijikkan itu. Kulirik lagi detik yang berjalan dalam arlojiku. Ya, aku yakin sudah 60 detik yang dijanjikan itu telah berlalu dan kini terlewat hingga 15 detik. Aku melemparkan pandanganku ke orang-orang sekitar. Mereka sungguh menikmati apa yang saat ini menjadi tontonan mereka. nampaknya tidak ada satupun orang yang sadar kalau waktu yang dijanjikan sebagai tantangan itu telah berakhir.
            Kuarahkan mataku pada objek yang menjadi sumber perhaNanda orang banyak dalam pesta kecil itu. Dua orang bodoh itu, yang salah satunya kekasihku belum juga melepaskan bibir mereka satu sama lain. Aku ingin berteriak, meminta mereka menyudahi adegan yang menyayat hatiku, tetapi nampaknya mereka telah tenggelam dalam sebuah nafsu setan.
            Aku beranjak pergi dari keramaian pesta itu, mengajak segenap perasaanku yang tersakiti dan tubuhku yang terasa lemas tak berdaya. Tak ada yang bertanya kemana aku ingin pergi, tak ada juga yang peduli. Padahal aku juga kekasih Nico. Tetapi tidak ada satupun orang yang tahu. Karena akan menjadi gempar jika banyak yang tahu.
            Toilet menjadi tempat persembunyian diriku, tetapi bukan tempat persembunyian bagi perasaanku. Aku menumpahkan semua perasaanku. Aku menangis sekeras-kerasnya di depan sebuah kaca besar yang memantulkan  bayanganku. Mataku merah dan pipiku basah..tak ada maskara yang luntur atau lipstick yang pudar karena aku memang tidak menggunakannya.
 Nico selalu bilang kalau aku cantik tanpa riasan apapun. Alami, tanpa ada kebohongan yang menyelimuti. Tidak seperti gadis lain pada abad ini, yang hobinya menumpuk semua kepalsuan di atas wajah mereka, juga hati. Tapi persetan dengan itu semua, karena realita yang terpampang saat ini adalah pembalikan dari semua alibi Nico sendiri. Dia tidak menolak atas tantangan itu. Tentu saja dia menikmati bibir rasa Maybeline milik Zara. Satu-satunya kekasih yang dia teriakan pada semesta beserta isinya.
            Dilihat dari sisi manapun, Zara memang lebih pantas menjadi kekasih Nico. Dia wanita yang cantik, memiliki otak brilliant dan kaya raya. Pantai Sambolo ini milik kakeknya. Pantai dengan pasir putih bersih yang sulit kau temukan di Pulau Jawa. Dan Zara adalah cucu kesayangannya. Yang menjadi nilai tambah lagi, dia begitu ramah dan rendah hati. Kekayaannya tidak menjadikannya angkuh. Hal itulah yang membuatku sulit untuk membenci Zara.
            Suara pintu toilet yang dibuka menyadarkan lamunanku. Segera kusapu air mataku dengan punggung tanganku. Jangan sampai ada orang yang melihatku berteman air mata di toilet ini karena mereka pasti akan memandangku aneh.
            Lewat cermin yang tadinya memantulkan bayanganku, kini kulihat juga memunculkan bayangan orang lain. Orang yang kukenal. Bayangan Nico. Dengan tubuh tegapnya, ia mematung di sana. Wajahnya sumringah seolah baru menemukan anak kucing yang hilang.
            “Aku cari kamu kemana-mana, tahunya ada di toilet. Kalau mau ke toilet, seenggaknya kamu titip pesan dong ke temen-temen, jadi aku nggak pusing nyariin kamu kemana-mana, ” ujar Nico dengan seulas senyum bahagia karena telah menemukanku.
            “Iya, maaf,” jawabku singkat dengan suara bergetar dan terus membelakanginya.
            Aku memutar kran air wastafel, berusaha menyibukkan diri dan menghindari tatapan Nico melalui cermin. Tangan Nico meraih bahuku dan memutar badanku untuk berbalik ke arahnya. Nico menghadapkan wajahnya tepat di depan wajahku. Mata bulatnya yang coklat menatap lurus kedua mataku.
            “Kamu habis nangis ?,” tanyanya dengan dahi berkerut. Wajahnya semakin tampan dan menggemaskan
            Aku tak  menjawab dan memalingkan wajahku.
            “Kenapa ?”
            Aku masih diam dan memilih untuk tidak menatap mata Nico.
            “Kamu cemburu ?”
            Aku masih diam tapi hatiku panas dan benci dengan setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Nico. Semua itu pertanyaan bodoh bagiku. Tak bisakah Nico mengerti aku? Haruskah ia terus menjajalkan pertanyaan menyebalkannya itu? Aku hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali. Semua ini terasa sulit bagiku.
            “Sayang, aku nggak ngerti kalau kamu terus begini. Setiap aku tanya, kamu cuma diam. Kamukan punya mulut, jawab dong !,” ungkap Nico kesal.
            Aku mengangkat wajahku yang dari tadi tertunduk ke lantai di toilet
             “Ya, aku cemburu. Aku punya perasaan, Nic. Siapa sih yang nggak sakit hatinya ngeliat bibir pacarnya nempel sama bibir cewek lain ,” ungkapku setengah berteriak.
            “Sayang, itukan cuma tantangan dari temen-temen. Just for have fun aja. Biar suasana pesta tahun baru ini makin ramai”
            “Ya tapikan tantangan itu banyak, kenapa harus kissing di depan umum yang dipilih?”
            “Sayang, itu tantangan dari temen-temen. Dan tangan Zara yang memilih tantangan itu dalam undian random. Sometimes challenge is crazy you know. Come on, sweetheart, jangan ngambek lagi dong. Semua ini bukan keinginan aku,” rayu Nico
            “Kamu bisa bilang nggak, kalau kamu mau. Tapi kamu emang maukan merasakan bibirnya Zara yang rasa maybeline itu?,” ucapku pedas
            “Hey, gimana kamu bisa tahu?,” tanya Nico dengan nada menggoda
Aku hanya diam. Memalingkan wajah karena merasa kesal
“Yaudah. Aku tahu kamu cuma envy,” jawab Nico singkat.
            Tak berapa lama, Nico mengejutkanku dengan menempelkan bibirnya di atas bibirku. Tangannya mendekap pinggangku dan merapatkan tubuhku ke arahnya. Seketika aku menolak dan memaksa melepaskan tubuhku dari dekapannya.
            “Kamu kenapa sih ?,” tanya Nico dengan nada kesal dan tatapannya yang tajam.
            “Bibir kamu bekas wanita itu. Aku nggak mau,” jawabku ketus.
            Nico hanya mengusap bibirnya perlahan dan diam. Hening. Tak ada yang bicara di antara kami.
            “Kita putus aja deh Nic. Aku nggak bisa terus-terusan jadi kekasih gelap kamu.,” ucapku membelah keheningan yang tercipta di toilet.
            “Kenapa? Cuma gara-gara bibir aku nempel sama Zara ? Itu Cuma game, sweetheart supaya nggak ada yang curiga siapa aku sebenarnya. Kamu tahu itu. Dan kamu juga tahukan kalau hati aku cuma milik kamu”
            “Tapi aku lihat, kamu beneran sukakan sama Zara ? Mata kamu nggak bisa bohong, Nic”
            “Itu cuma perasaan kamu yang terbakar cemburu, sayang. Kamu jadi negative thinking. Untuk mencairkan suasana gimana kalau kita jalan-jalan di pantai ?”
            “Aku minta maaf deh kalau menurut kamu tadi tatapan aku ke Zara seolah suka sama dia. Tapi, seharusnya kamu lebih bisa membedakan kalau tatapan aku Zara dengan tatapan aku ke kamu itu beda, sweetheart
            Aku hanya menunduk pasrah sambil melempar senyum khasku tapi Nico selalu tahu maksud dari semua itu. Nico langsung merangkul bahuku dan bergegas meninggalkan toilet hingga saat pintu toilet pria itu terbuka, Zara telah berdiri manis di sana.
            “Lama banget sih di toiletnya Nic ? Aku sudah menunggu kamu di depan toilet ini lebih dari 15 menit. Jadi, kamu habis mencuci bibir kamu setelah kissing sama aku?,” tanya Zara bertubi-tubi.
Hening. Kami masih kaget akan keberadaan Zara yang tiba-tiba.
Ohya, sifat cerewet Zara adalah titik kekurangannya. Atau mungkin itu adalah sebuah kewajaran bagi wanita. Tetapi aku sungguh tak tahan dengan perangainya yang satu itu.
Did you feel  disgusted with me ?,” tanya Zara lembut setelah tak ada jawaban dari pertanyaannya yang bertubi-tubi.
Kali ini sepasang bola matanya yang coklat bulat memancarkan keteduhan dan kekhawatiran. Aku tak sampai hati melihatnya.
“Nico, kamu ngapain ngerangkul Nanda ? Kamu juga, Ian. Kok mau sih dirangkul sama Nico ?,” tanya Zara sinis secara tiba-tiba.
            “Eh nggak ini tadikan cuma rangkulan sahabat aja, beib. Iyakan Ian ?,” elak Nico sambil melepaskan tangannya dari bahuku.
            “Iya, Ra. Lo jangan negative thinking dong,” tambahku dengan senyum yang dipaksakan.
            “Habis lo sahabatnya Nico tapi udah kaya pacar ke-2nya sih. Kemana-mana bareng. Bikin envy. Gue aja yang ceweknya masih sering dicuekin sama Nico,” gerutu Zara.
            Aku tercekat mendengarnya. Seandainya Zara mengetahui yang sesungguhnya. Zara lah pacar ke-2 Nico, bukan aku. Kudapati Nico mematung, seolah kaget dengan pernyataan gadis di depannya itu. Tapi hal itu hanya berlangsung sepersekian detik, karena Nico langsung dapat mencairkan suasana.
            “Yaudah mulai sekarang aku nggak cuekin deh. Aku akan selalu ada di samping kamu,” janji Nico sambil menggamit tangan mungil Zara.
            “Anytime?,” tanya Zara memastikan.
                        “Anytime, love,” balas Nico. Kali ini dia mengangkat tangan Zara yang berada di genggamannya, lalu mengecupnya.
                        Zara tersenyum lembut. Ada kebahagiaan yang tersirat dalam matanya yang bening. Di matanya yang bening pula, terpancarkan sebuah bayangan orang kesakitan menyaksikan adegan itu. Ya, orang itu adalah aku.
                        Ucapan Nico begitu menyakitkan untukku. Aku tahu sampai kapanpun aku hanya akan menjadi kekasih gelapnya.
                        “Kalau gitu, temani aku ke pantai. Aku mau menghitung mundur perganNanda tahun sambil mendengar deburan ombak. Aku ingin jalan-jalan di pantai,” pinta Zara.
“Siap, tuan puteri. Hamba akan menuruti permintaan tuan puteri,” ujar Nico dengan posisi bak abdi istana yang setengah berlutut. Lengannya membentuk siku, menyiskaan ruang untuk digandeng. Tetapi ruang itu tentu saja bukan diperuntukkan bagiku.
Zara tersenyum manis. Manis sekali hingga membuat ulu hatiku semakin nyeri. Zara menyambut ruang itu dan mereka melangkah pergi. Meninggalkanku berdiri sendiri mematung di depan toilet pria berbau busuk ini. Tetapi, tiba-tiba suara itu menyapaku.
“Nanda, kamu mau kemana ?, ” tanya Zara yang melongokkan kepala di ujung koridor toilet.
Aku hanya mengangkat alis. Bingung atas pertanyaan Zara dan tak tahu harus menjawab apa. “Ikut kami jalan-jalan ke pantai yuk. Make a wish di pinggir laut,” bujuk Zara.
“Iya, Ian. Ayo ikutan. Daripada bengong. Kasihankan sendirian, jomblo. Lebih baik ikut kita,” tambah Nico.
Aku senang Nico mengajakku tetapi aku tidak suka ia mengasihaniku, terlebih lagi di depan Zara. Meski aku tahu kalau ini semua adalah topeng yang sedang ia kenakan.
Aku hanya tersenyum kecil.

* * *
            “Aku bersyukur kakekku mewariskan Pantai Sambolo ini untukku. Pantai ini bagiku adalah teman untuk segala peraduan setiap emosi yang sedang kuhadapi. Terlebih lagi pasir putih nan lembut ini selalu siap menerimaku kapanpun,”
            “Jadi, kamu mengadakan pesta tahun baru di sini karena sebenarnya….,”
            Aku sengaja menggantungkan kalimatku. Kami sudah berjalan selama 10 menit menyusuri pinggiran Pantai Sambolo ini, tetapi Nico—yang sedang mengambil ponselnya di kamar—belum juga kembali.
            “Aku bahagia bersama Nico, tetapi entah kenapa ada sesuatu yang disembunyikan dalam diri Nico dariku. Aku merasa ada ruang kecil dalam diri Nico yang dikunci rapat dariku. Ruang itu seolah disediakan untuk orang lain.”
            Zara menghentikan langkahnya. Kakinya yang mungil kini telah bertemankan pasir putih yang halus. High heelsnya sudah lama ia tanggalkan dan hanya digenggam.
            “Kamu tahu apa yang tidak aku tahukan, Ian ?, ” tembak Zara  tiba-tiba.
            “Maksudmu ?,” balasku bertanya.
“Tentang Nico. Apa ada orang lain selain aku di hatinya?”
Deburan ombak terdengar mendominasi perbincangan ini. Aku masih belum menjawab. Zara masih belum melangkah. Sepasang matanya tertancap pada diriku. Menanti mulutku membuka.
“Jadi benar dugaanku,” buka Zara memecah keheningan yang tercipta diantara kami. Kini tatapan dan tubuhnya menghadap ke laut. Ada senyum yang tercipta dari bibir beroleskan Maybeline miliknya. Senyum yang menyiratkan luka.
“Kamu sudah kenal sama Nico hampir 5 tahunkan? Kamu tentu saja tahu segalanya. Nico akan lebih memilih bercerita sama kamu dibanding aku, kekasihnya selama 2 tahun ini.”
Tentu saja. Tentu saja, karena aku kekasih Nico selama 5 tahun, Ra. Jauh sebelum Nico mengenalmu, Ra. Lantas apa yang salah jika Nico lebih memilih menceritakan segalanya kepadaku?
“Jadi Nico selingkuh ? Aku merasa tidak pernah mendapatkan hati Nico. Meski ia selalu berhasil membuatku jatuh cinta berkali-kali setiap saat melihatnya.”
Aku masih terpaku. Suasana ini lebih cocok sebagai monolog Zara karena aku tak sedikitpun membuka mulut dari berbagai pertanyaan yang terlontar dari mulut Zara. Aku mengutuki Nico yang tak juga kembali.
“Nico nggak selingkuh, Ra. Aku tahu betul kalau dia teramat sangat menyayangimu. Kekhawatiranmu akan kehilangan Nicolah yang membuat kamu berpikir yang nggak-nggak.”
Aku meletakkan tanganku di atas bahu kiri Zara untuk meyakinkannya. “Nico akan terus bersama kamu. Percayalah”
Aku hampir muntah dengan untaian ceramah penyemangatku kepada Zara jika saja Nico tidak cepat-cepat datang.
“Sorry lama. Gue bawa ini buat kalian,” buka Nico yang baru datang sambil menyodorkan 2 jagung bakar untuk aku dan Zara.
“Ini rasa keju buat Zara dan yang pedas buat Nanda,” jelas Nico seperti penjual jagung bakar. Aku senang Nico tidak lupa dengan rasa favoritku.
“Aku mau yang pedas,  Nic. Bosan sama yang keju. Tukaran dong, Nda,” pinta Zara tiba-tiba sambil berniat mengambil jagung bakar milkku, tetapi Nico menghalanginya.
“Nanda alergi sama keju, Ra. Lagipula biasanya kamu selalu pesan rasa kejukan?”
“Aku bosan,” jawab Zara singkat.
“Kamu juga nggak boleh keseringan makan pedas lho, Ra. Tadi di dlama udah makan udang yag pedas banget”, jelas Nico mengingatkan.
“Itu pedas manis, Nic. Punya kamu rasa apa?”
“Keju juga. Supaya samaan dengan kamu,” jawab Nico dengan senyum khasnya yang tak pernah gagal membuatku meleleh. Tetapi senyum itu bukan untukku kini, melainkan untuk Zara.
Zara tersenyum mendengar alibi yang dipaparkan Nico. Kami kemudian sibuk makan jagung bakar sambil menyusuri pantai tanpa beralaskan alas kaki.
“Nda, resolusimu apa buat tahun baru ? Kapan punya pacar ? Emang nggak pengen punya pacar ?, ” berondong Zara dengan berbagai pertanyaan. Cerewetnya sudah mulai keluar dan aku tak pernah bisa untuk tidak merasa kesal.
Tetapi aku menyembunyikannya dan memilih menjawab dengan senyum tipis.
“Yang ngejar sih banyak. Tapi nggak ada yang nyangkut. Mungkin, Nanda keseringan jual mahal,” jawab Nico santai.
“Masa sih? Kamu sok tahu kali, Nic. Siapa tahu diam-diam Nanda sudah punya pacar. Pacar rahasia. Kamu nggak tahu. Cuma Nanda dan pacarnya yang tahu,” tutur Zara sambil menjawil hidung Nico.
Bingo ! Pacara rahasia. Aku memang memilikinya, Zara. Pacara rahasiaku adlaah kekasihmu di dunia nyata.
“Nic, aku mau tanya sesuatu deh sama kamu. Janji jawab jujur ya tapi,” buka Zara.
“Iya. Kamu mau tanya apa memangnya ? Aku jawab jujur deh”
“Juga objektif ya. Nggak perlu merasa nggak enak”
Nido hanya mengangguk sabar.
“Kamu pilih aku atau Nanda?”
“Maksudnya ? Pilih gimana? Kalian kan 2 makhluk yang berbeda. Kenapa aku harus pilih salah satunya?,” balas Nico gelagapan.
“Justru karena kami 2 makhluk yang berbeda, maka kamu semakin memiliki alas an untuk memilih salah satunya bukan?,” jelas Zara lagi. Aku tak mengerti kemana arah pertanyaan Zara ini. Tetapi di dalam lubuk hatiku, aku juga penasaran dengan jawaban Nico.
Nico hanya tertawa. Tertawa yang sesungguhnya menyiratkan kebingungan.
“Okay, aku bantu. Misalkan dalam kondisi kami sedang sama-sama dirawat di Rumah Sakit. Kamu lebih memilih menunggui aku atau Nanda?,” tanya Zara.
“Zara…itu…pertanyaan…”
“Kamu cukup jawab, Nic”
“Aku pilih kamu tentunya, Ra. Karena kamu pacar aku”
Aku tercekat mendengarnya. Tetapi, sudha pasti Nico akan menjawab seperti itu
“Tapi, Nanda sahabat kamu?”
“Suatu saat pada kondisi itu, aku yakin Nanda telah menemuka orang lain yang perhatian kepadanya. Kamu juga meyakininya kan, Nda ?”
Aku hanya mengangguk. Menelan pahit rasa sakit dan duri yang menyesaki. Hatiku meletup letup bagai kembang api yang menandakan pergantian tahun. Bedanya, letupan itu menyiratkan kebahagiaan. Sementara letupan yag kurasakan menyiratkan rasa sakit yang bertubi-tubi.
Rasa sakit yang bertub-tubi atas pernyataan Nico barusan. Jika selama ini kau hanya berpikir akan selamanya menjadi kekasih gelap Nico, itu adalah salah. Karena kenyataannya mungkin akan lebih buruk dari itu. Suatu hari Nico akan membuangku, memninggalkanku. Meninggalkan pasangan gaynya. Suatu hal yang tidak pernah sekalipun melintas dalam pikiranku.
* * *
"Nandaa,"  Zara langsung memelukku tatkala aku menyeruak menerobos kerumunan orang-orang di pinggir pantai. Tangisnya pecah membasahi kaos yang kukenakan sejak semalam. Semoga Zara tidal menyadaro ada bau amis yang bersarang di sana.
Aku masih memeluk Zara sambil berjalan mendekati objel yang menjadi pusat perhatian dan berkumpulnya orang-orang. Aku melihatnya. Sesosok tubuh orang yang telah kucintai dan mencintaiku selama 5 tahun ini. Orang yang selalu memberikan senyuman termanisnya untukku. Orang yang menyisakan sebuah ruang dalam hatinya hanya untukku, tanpa dapat diusik orang lain. Orang yang selalu berusaha melindungiku dalam keadaan apapun.
Orang itu kinibtak berdaya. Terbujur kaku bersama pasir putih Pantai Sambolo yang halus. Aku tahu kulitnyapun tak kalah halus dari pasir pantai itu. Tubuh itu milik Nico.
Aku kaget bukan main karena masih mendapati tubuh Nico berada di pinggiran pantai ini. Mengapaa ombak tak menghanyutkan tubuhnya. Tiba tiba pikiranku melayang pada maam sebelumnya. Malam setelah kami berbincang bersama Zara.
Aku dan Nico tidak langsung tidur. Kami memutuskan untuk menyusuri pantai lebih jauh. Jauh dari tempat penginapan kami. Tujuannya hanya satu, tentu saja agar tidak ada yang melihat kami. Terutama Zara.
Sejujurnya aku sudah sangat lelah dan berulang kali menolak ajakan Nico itu, tetapi Nico berkali lipat membujukku dan aku tak berdaya. "Jangan cemberut dong Nda. Kamu beneran gak mau jalan jalan sama aku emang nya ?"
Aku hanya diam. Tak menggubris setiap omongan yang keluar dari mulut Nico. Aku sudah sangat lelah dan muak mengingat jawaban Nico saat perbincangan beraama Zara tadi.
"Jadi, kalau aku dan Zara sama sama sedang sakit, kamu nggak akan menungguiku, bahkan sejenakpun untuk menengok kamu nggak akan melakukannya?," bukaku
"Nda, sudahlah kenapa kamu jadi mirip Zara begini sih. Itu pertanyaan bodoh. Jangan diungkit lagi," teriak Nico.
Harus kuakui kalau aku kaget mendengarnya. Selama ini Nico tak pernah sekalipun beerbicara lantang ataupun berteriak kepadaku. Tetapi malam ini..
Aku langsung berlari kencang meninggalkan Nico. Dapat kudengar Nico berusaha keras mengejarku. Merengkuh bahuku dan membalikkannya. "Nda, maaf nda. Aku nggak maksud...aku..."
Suara Nico terputus. Matanya terbelalak menahan sakit sekaligus kaget. Darah mengalir segar dari perutnya. Sekali tusukan namun begitu dalam.
"Nda...kamu..."
"Maaf, Nic. Aku nggak bisa percaya terus sama kamu. Kamu akan lebih memilih Zara pada waktunya nantu. Sampai kapanpun, kamu nggak akan pernah mengenalkan aku kepada semesta dan isinya. Kamu nggak akan pernah mengenalkanku sebagai kekasihmu," ucapku setengah berteriak.
Dadaku terasa sesak. Sakit sekali rasanya menyaksikan Nico tersakiti. Tapi aku telah lama tersakiti olehnya. Dan aku tak mau meneruskan rasa sakit ini. Aku memeluk Nico untuk terakhirnya sambil menyelipkan sebuah pesan di kantung jeansnya.
Kejadian semalam berputar dalam kepalaku dengan sangat jelas. Aku sengaja menghabisi nyawa Nico. Aku sudah muak menjadi tamengnya. Aku terlalu bosan mendengar setiap bualannya. Nico akan meninggalkank untuk gadis kaya bernama Zara. Pada suatu hari nanti. Hari itu akan tiba. Dan aku tidak akan pernah membiarkan hari itu tiba.
Zara menangis di pelukanku. Isakannya begitu mengharukan.
"Aku menemukan ini di kantong jeans Nico, Nda"
Zara menyodorkan sebuah kertas kecil berwarna kuning. Aku mengenalinya. Kertas itu adalah pesan yang kuselipkan.
"Aku udah baca isinya, Nda. Nico ingin..."
"Aku pasti akan menjaga kamu, Ra. Seperti apa yang diamanatkan Nico"
Zara membenamkan kepalanya di dadaku. Aku bersyukur ia tak mengenali tulisanku ataupun Nico.

Finish

© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis