October 21, 2011

Problema Mimpi

Judul postingan ini terlihat aneh buat saya. Tetapi sebuah mimpi memang menghadirkan sebuah pertanyaan tersendiri dalam diri saya.

Ini mimpi dalam makna sebenarnya.

Saat Anda tertidur dan di dalamnya terjadi sebuah peristiwa yang seakan – akan diri kita berada di dalam peristiwa itu, padahal kita sedang tertidur. Jadi, mungkin itu roh kita ?

Makanya, ada mitos yang mengatakan saat orang sedang tertidur tidak boleh diabadikan gambarnya (difoto) ataupun dicoret-coret wajahnya. Hal ini dikarenakan, saat seseorang tertidur rohnya sedang berkelana entah kemana dan akan kembali ke tubuhnya untuk bangun. Jadi, kalau orang sedang tertidur wajahnya dicoret-coret dikhawatirkan si roh tidak bisa kembali ke tubuhnya yang semula karena tidak mengenali wajahnya sudah dicoret-coret. Alhasil, roh ini tidak bisa masuk ke tubuh seseorang dan orang itu tidak akan bangun.

Kebenarannya saya sendiri tidak tahu pasti, karena yang mejadi problema dalam sebuah mimpi buat saya adalah ‘apa pertanda mimpi saya?’ bukan ‘siapa pelaku sesungguhnya dalam mimpi saya?’

Saya pernah membaca postingan salah satu teman saya yang menganggap jika kita memimpikan seseorang, belum tentu kita yang merindukan orang tersebut, tetapi bisa saja orang yang ada dalam mimpi kita itulah yang merindukan kita.

Pemikiran dia begitu bagus menurut saya. Mematahkan anggapan yang selama ini beredar luas dalam masyarakat.

Contoh :

A : kemaren gue mimpiin si C deh masa

B : kangen kali lo sama si C

Setelah mendengar kata si B, tipe orang gagal (gampang galau) akan cepat galau, mengingat si C, rindu sama si C.

Kondisi itulah yang lumrah dalam pemikiran masyarakat, termasuk saya.

Beberapa hari yang lalu, saya memimpikan seseorang. Orang itu sudah lama tidak saya temui (mungkin sekitar 3 tahun) dan sekarang tinggal di pulau yang berbeda.

Dalam kurun waktu seminggu, sudah 2 kali saya memimpikan beliau. Dalam mimpi itu, saya bertemu dengan beliau dan memeluknya, dalam mimpi itu emosi saya terbawa. Merasa bahagia dan terharu ketika akhirnya bisa bertemu beliau.

Tetapi saat terbangun dan menyadari itu mimpi, emosi saya masih juga terbawa, tetapi bukan haru maupun bahagia. Yang ada adalah kecewa, karena semua itu mimpi.

Lumrah untuk kebanyakan orang menurut saya. Merasa kecewa karena suatu hal yang menurut kita indah ternyata hanyalah sebuah bunga tidur. Saya sering memimpikan beliau dan masih dengan pemikiran lama menganggap saya merindukannya. Tetapi saya lelah dengan pemikiran itu, terkadang saya mencoba untuk menyelipkan pemikiran teman saya yang berarti kebalikan.

Beliaulah yang merindukan saya, ingin bertemu saya, namun jarak terlalu jauh dan akhirnya menemui saya dalam mimpi.

Pemikiran ini yang terlihat indah dan tidak mengiris hati, tidak membuat diri sendiri menjadi orang gagal (gampang galau) dan melankolis akut. Tetapi sulit menerapkannya karena memang paradigma lama telah ada sejak lama dan terlanjur mengakar.

Honestly, I’m totally missing you, Mrs. Nura

Hope you always better in your life and remember me :)

October 18, 2011

The One That Got Away

kalau ditanya lagu apa yang lagi gue suka sekarang, maka ini jawabannya...
hemm waittt gak ada yang nanya juga sih

ini lagunya Katty Perry. Isinya sih penggalauan tapi ngebeat kok
hemm (lagi) nggak tau ini lagu aktty Perry yang ke berapa yang gue suka, yang jelas nggak salah kalo dia dibilang ngegeser posisinya MJ...yaiyalah singlenya jadi hits muluuuu


the one that got away

Summer after high school when we first met
We make up in your Mustang to Radiohead
And on my 18th Birthday
We got matching tattoos

Used to steal your parents' liquor
And climb to the roof
Talk about our future
like we had a clue
Never plan that one day
I'd be losing you

And in another life
I would be your girl
We keep all our promises
Be us against the world

And in another life
I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
The one that got away

I was June and you were my Johnny Cash
Never one without the other we made a pact
Sometimes when I miss you
I put those records on

Someone said you had your tattoo removed
Saw you downtown singing the Blues
Its time to face the music
I'm no longer your muse

And in another life
I would be your girl
We keep all our promises
Be us against the world

And in another life
I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
The one that got away

The one that got away


All these money can't buy me a time machine
Can't replace you with a million rings
I shoulda told you what you meant to me
Cause now I pay the price

And in another life
I would be your girl
We keep all our promises
Be us against the world

And in another life
I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away
The one that got away


And in another life
I would make you stay
So I don't have to say
You were the one that got away

September 29, 2011

From Little Thing (names)


Postingan gue ini terinspirasi oleh seorang teman yang sebenarnya gue belum kenal secara utuh. Gue hanya tahu namanya dan asal sekolahnya. Nggak lebih. Hal lain tentang dia? Gue cuma bisa lihat dari luarnya, seperti melihat cover buku yang ada di Toko Buku.
Just judge hisself from outside. Dari mata terutama.

Gue hanya merasakan dia seperti korban. Korban dari tindakan tak bertanggung jawab petinggi negri ini. Korban dari sebuah nama.
Ya nama...menurut gue nama adalah sesuatu hal yang kecil tapi bermakna. Sangat bermakna buat gue karena gue suka kalau orang menyebut nama gue dalam pembicaraan.

Contoh : ‘Kalau menurut lo gimana fit?’

Nama itu adalah identitas diri yang paling sederhana, yang harus kita jaga, dan perlakukan sebaik-baiknya.
Dan nama bisa menjadi sebuah dasar dari semua hal yang kita lakukan di dunia ini.

Contohnya nggak perlu jauh-jauh, gue yakin readers udah nggak asing dengan sebuah nama yang selalu menghias layar kaca, Koran, internet atas pemberitaannya. Nama orang ini bagus, bahkan membawa nama Rasulullah. Tetapi sayang, perilakunya tidak sebagus namanya.

Gue nggak mau menyebutkan nama orang ini, yang jelas orang ini begitu terkenal. Sayang, terkenal karena dugaan korupsi, bukan prestasi.
Gue yakin di dunia ini, nggak cuma 1 orang yang punya nama seperti dia atau paling nggak mirip-mirip dia namanya, meski cuma di bagian 4 huruf terakhir atau di bagian tengahnya sekalipun.
Sekarang nama orang ini melambung, makin eksis. Tapi sekali lagi ke-eksis-annya karena hal negatif.
Dan banyak orang di luar sana yang namanya entah mirip atau benar-benar sama jadi kena efeknya, berupa ledekan atau cibiran atau candaan yang bisa saja maknanya hanyalah bercanda atau spontan tentu saja tanpa niat menyinggung perasaan orang itu.

Lalu pernahkah kita memikirkan bagaimana perasaan orang yang memiliki nama yang sama atau hanya mirip-mirip saja yang terkena imbasnya itu?
Setiap orang berbeda, bisa saja dia hanya menganggap guyonan tetapi ada saja yang tidak terima, yang pasti mendendam dengan si pemilik nama yan melambung karena tindakan negatifnya.

Mungkin ini agak ribet, susah juga menuangkannya. Menjelaskannya melalui tulisan.
Yang jelas, gue hanya ingin share apa yang ada dalam pikiran gue kalau nama yang telah diberikan orang tua kepada kita adalah sebuah doa, harapan dan tanggung jawab yang harus kita pikul bukan justru membuat orang lain—yang namanya sama atau hanya mirip dengan kita—menjadi merugi.

Well, semoga apa yang gue share ini maksudnya tersampaikan benar buat readers 

Choice


Mengetik barisan kalimat yang gue niatkan untuk di posting (setelah lama gak posting) rasanya kayak menceburkan diri di sebuah kolam yang gue rindukan atau kembali menghirup bau gerimis ditemani embun di puncak gunung yang diselimuti kabut.
*berlebihan? Tidak juga ahh

Saat gue menulis postingan ini…September dalam hitungan hari untuk menutup tanggalnya. Dan di September inilah—tepatnya sekitar 3 minggu yang lalu—gue resmi menjadi mahasiswi. Ya, 3 minggu yang lalu perkuliahan udah dimulai di kampus gue, yaitu UIN Jakarta. Sudah mulai belajar juga dan perlahan dihajar dengan tugas-tugas yang menumpuk.


Ternyata kuliah itu nggak seperti yang gue bayangkan, nggak seenak yang gue pikirkan, nggak segampang yang gue khayalkan. Kuliah itu menurut gue…yang terpenting adalah manajemen waktunya. Ada banyak kegiatan, banyak teman, banyak tugas, banyak ilmu, banyak pengalaman. Banyak hal intinya. Dan semua itu punya sisi positif dan negative, bisa jadi variable x atau variable y, bisa jadi sesuatu hal yang mempengaruhi atau dipengaruhi.

Dari banyak hal itu, yang paling inti adalah diri kita. Bagaimana diri kita memadukan semuanya? Atau hanya mau pilih salah satunya? Atau justru tidak satupun yang kita ingin perkaya dalam diri kita?

Everyone has a choice in theirselves.
But, to make a choice isn’t easy. We must consider the other things.

Dan dari apapun pilihan kita, kita juga harus mempertanggungjawabkannya. Karena memang sudah seharusnya begitu.

So, yang mau gue share adalah selalu hati-hati dalam membuat pilihan dan pertanggungjawabkan apa yang telah kita pilih sejak awal. Jangan memutuskan sesutu hal dalm keadaan emosi (#kkk2011).

Keep Spirit ! Ganbatte

August 4, 2011

Alam Sosial



Aku tidak sama dengan kamu. Kami jelas berbeda dengan kalian. Ya, itu yang aku tahu, yang aku sadari, dan kini aku mengerti. Mulut mereka hamper berbusa menyuarakan hal yang sama tiap tahunnya, mengatakan kami sama dengan kalian.

Kami punya masa depan yang luas. Kami yang akan menguasai dunia. Tetapi nyatanya mereka tahu kebenarannya.
Aku dan kamu tidak sama, tidak akan pernah sama.
Kami dan kalian sangat berbeda.
Kami tersingkir dan kalian semakin melambung
Semua sama itu adalah bohong. Mereka yang menyerukan kebohongan itu tetap mengagungkan kalian.
Sekarang…kini…dan nanti, aku telah mengetahui…telah menerima kalau aku dan kamu tidak sama, kalau kami dan kalian sungguh berbeda.
Terima kasih

16 Maret 2011
© My Words My World 2012 | Blogger Template by Enny Law - Ngetik Dot Com - Nulis